06 Juli 2010

sisir :D

CERPEN OLEH : dedewadedew

SISIR

Sudah hampir tiga tahu lamanya dia selalu setia menemani saya. Kemana saja saya pergi dia selalu ikut serta dengan saya. Sepertinya dia enggak mau lepas dari saya. Bentuknya yang kecil, mungil serta warnanya yang kuning membuat saya jatuh hati padanya. Bisa dibilang dia bagian dari hidup saya.
Sisir berwarna kuning itu, saya beli di warungnya Pak Suratman, sewaktu menjelang study tour ke Jakarta, ketika saya masih SMP kelas tiga dulu. Harganya murah sekali, hanya lima ratus rupiah. Namun sayang sekali justru dia enggak ikut serta dengan saya untuk study tour ke Jakarta. Entah mengapa saya lupa membawanya. Saya baru tersadar ketika sudah berada di dalam bus.
Sisir itu, saya selalu menyimpannya di saku bagian belakang celana saya, sebelah kiri. Karena yang sebelah kanan adalah dompet.
Tetapi semenjak saya masuk bangku SMA, dia selalu saya bawa ke mana saja saya pergi. Saya gak mau menelantarkannya begitu saja. Hingga kini saya kelas tiga SMA, dia masih selalu setia menemani saya.
Walaupun wajah saya enggak begitu tampan tapi saya gak mau rambut saya acak-acakan. Sisir kesayangan saya ini berguna sekali untuk merapihkan rambut saya. Malahan saya tambah pede bila saya merapihkan rambut menggunakan sisir tersebut.
Ternyata enggak hanya saya saja yang merasakan manfaat dari sisir itu. Banyak juga teman-teman saya yang terpikat padanya. Eki cowok paling tampan di kelas merasa lebih tampan bila rambutnya dirapihkan menggunakan sisir saya. Sobirin cowok paling pede juga tambah pede bila sisir saya yang merapihkan rambutnya. Tedi yang sok ganteng juga lebih percaya pada sisir saya yang menjadikan dia lebih ganteng dari pada sisirnya sendiri. Jimin yang cool dan keren juga rambutnya selalu dirapihkan oleh sisir saya. Yona yang giginya ompong juga rajin meminjam sisir saya. Sampai Armansyah cowok paling ancur dan culun gak pernah absen meminjam sisir saya.
Enggak hanya temen cowok saja yang selalu meminjam sisir saya, cewek-cewek juga gak mau ketinggalan. Wina, cewek paling cantik selalu tampil cantik bila sisir saya yang merapihkan rambutnya yang indah. Dewi, cewek paling sexy merasa lebih sexy bila sisir saya yang menjadikan rambutnya semakin mempesona. Ica yang selalu dandan rasanya kurang lengkap bila sisir saya tak menyentuh rambutnya yang indah. Sumartini yang centil juga selalu mananyakan sisir saya. Deti cewek paling pintar juga selalu ingin sisir saya yang membelai rambutnya. Herni yang rambutnya panjang sepantat merasa lebih nyaman bila sisir saya yang menjamah rambutnya. Wah pokoknya sisir saya itu jadi primadona deh di kelas. Sampai-sampai Rusnanto ingin membelinya dengan harga seratus ribu rupiah. Tetapi saya enggak mau menjualnya. Karena saya terlalu sayang dengan sisir tersebut.
* * * * *


P agi itu saya bangun tidur kesiangan. Jam dinding di kamar saya sudah menunjukan pukul 06.30 WIB. Sehingga saya mandi hanya sebentar saja. Kurang dari dua menit. Gak pake sabun. Karena terburu-buru saya enggak sempat sarapan. Saya jadi panik ketika teringat PR matematika saya belum dikerjakan. Gara-gara semalam nonton bola di tv, saya jadi lupa mengerjakan PR matematika tersebut. Entar aja deh nyontek punya temen. Yang bikin saya tambah panik lagi adalah jam pelajaran pertama adalah ekonomi. Gurunya galak banget. Biasanya Pak Jodi suka menghukum muridnya kalau ada yang terlambat. Bisa-bisa disuruhnya lari keliling lapangan. Saking paniknya sampai-sampai saya lupa menyisir rambut saya yang masih acak-acakan. Padahal saya sudah mau naik angkot. Terpaksa saya pulang lagi ke rumah untuk mengambil sisir itu di kamar. Lalu dalam sekejap saya merapihkan rambut saya dengan sisir kesayangan saya yang hampir lupa saya bawa. Walaupun membuat saya makin terlambat.
Tiba di sekolah pukul 07.30 WIB. Pintu gerbang sudah ditutup. Keadaan sekolah sudah sepi. Semua murid sudah masuk ke kelasnya masing-masing. Termasuk kelas saya sendiri. Saya jadi kebingungan gak bisa masuk sekolah gara-gara gerbangnya sudah ditutup dan dikunci. Sehingga timbul niat untuk menaiki pagar sekolah.
Terlihat seseorang sedang duduk di kursi dekat tempat parkir sepeda motor. Rupanya itu Pak Yadi, penjaga sekolah. Iapun menatap saya tajam dari kejauhan. Lalu mendekati saya. Tiba-tiba batal niat saya untuk menaiki pagar sekolah.
“Pak tolong buka gerbangnya!” pinta saya.
“Kenapa kamu terlambat?” Tanya Pak Yadi.
“Rumah saya jauh, pak.” Jawab saya.
“Murid-murid di sekolah ini juga banyak yang rumahnya jauh tapi mereka tidak terlambat seperti kamu!”
“Mungkin mereka semuanya punya kendaraann pribadi, Pak. Tidak seperti saya harus naik kendaraan umum. Tolonglah pak kali ini saja!”
“Tidak bisa. Salah kamu sendiri terlambat,”
“Pak saya terlambat bukan karena keinginan saya. Kalau saya punya kendaraan sendiri pasti saya tidak terlambat, pak. Bukankah Bapak juga dulu waktu sekolah pernah terlambat? Jadi saya mohon dengan sangat, pak. Buka gerbangnya! Apakah bapak tidak kasihan terhadap saya? ”
Mendengar kata-kata saya seperti itu, Pak Yadi hanya terdiam. Terlihat dia menatap saya semakin tajam. Lalu membukakan gerbang. Mungkin ia merasa iba atau kasihan terhadap saya.
“Terima kasih pak,”
“Lain kali jangan terlambat lagi!?”
“Iya pak,” lalu saya bergegas masuk kelas.
Kepanikan saya belum juga sirna walaupun penjaga sekolah sudah mengizinkan saya masuk sekolah. Sekarang tinggal masuk kelas. Saya takut Pak Jodi sudah menanti saya dan akan menghukum saya. Apalagi pintu kelas sudah tertutup rapat.
Namun ketika saya semakin mendekat, ternyata kelas saya malah kedengaran gaduh sekali. Masih banyak anak-anak yang berisik. Ini semakin meyakinkan saya bahwa di dalam kelas belum ada gurunya. Mungkin juga Pak Jodi belum datang. Saya jadi lega sekarang.
Saat saya mengetuk pintu, tiba-tiba yang semula keadaannya gaduh mendadak menjadi tenang dan sepi. Seperti patung yang membisu. Sudah tidak ada lagi kedengaran berisik sedikitpun. Sepi sekali seperti di kuburan. Lalu di saat saya membuka pintu dan hendak masuk kelas, langsung teman-teman meneriaki saya. Rupanya saya dikiranya guru mereka. “Sialan! Gue kira Pak Jodi yang datang, eh ternyata malah Si monyong yang datang.” Kata Dien sebel. Saya hanya bisa nyengir kuda.
Saya langsung duduk di bangku saya sendiri. Menahan rasa malu. Tetapi saya juga ingin ketawa sendiri, apabila mengingat kejadian barusan.
“Ah elo, gue kira guru. Kenapa sih, elo bisa sampai kesiangan?” Tanya Sobirin yang duduk sebangku dengan saya.
“Saya bangun tidur kesianagan, apalagi sisir saya sempat ketinggalan waktu saya mau naik angkot. Jadi saya kembali lagi ke rumah untuk mengambilnya. Beruntung saya masih diperbolehkan masuk oleh penjaga sekolah,” jawab saya.
“Makanya kalau tidur jangan malem-malem, jadinya kesiangan deh bangunnya! Eh gue pinjem sisir dong!” Kata Sobirin.
“Eh, gue dulu yang minjem,” kata Nana.
“Apaan sih elo Na? gue kan yang sebangku sama Eka. Jadi harusnya gue yang dikasih pinjem dong.” Kata Sobirin.
“Gak bisa gitu dong. Guekan udah dari kemaren bilangnya,” kata Nana.
“Itukan kemaren. Sekarang ya sekarang. Beda lagi,” kata Sobirin.
“Kok kalian malah jadi ribut sih,” kata saya.
“Makanya kasih pinjem ke gue aja!” kata Nana.
“Jangan kasih dia! Kasih gue aja!” kata Sobirin.
“Eh, biar adil. Lebih baik pinjemin ke gua aja!” kata Jimin.
“Apaan sih, Jim? Ikut-ikutan aja, adil dari hongkong,” kata Sobirin kesal.
“Sebentar! Saya punya usul. Bagaimana kalau dikasih pinjam saya aja? Karena saya sekampung sama Eka,” kata Tedi ikut nimbrung.
“Eh, aku yang lebih berhak dikasih pinjem sisir, duluan. Karena akukan yang sering ngejajanin Eka,” kata Rusnanto gak mau kalah..
“Aku aja yang dikasih pinjem duluan. Akukan cewek. Di mana-mana cewek harus lebih didahulukan,” kata Deti.
“Bener, cewek harus lebih didahulukan! Tapi gue aja yang lebih dulu dikasih pinjem, secara gue yang paling cantik, gitu loh” kata Wina.
“Gue aja, guekan juga cewek! Malahan gue cewek paling sexy,” kata Dewi.
“Dasar pada narsis lo! Gue aja. Guekan cowok yang paling tampan dan ganteng,” kata Eki gak mau kalah.
“Elo juga narsis,” kata Dewi.
“Udah jangan rebutan!” kata saya. Entah mengapa mereka malah saling berebut ingin meminjam sisir saya lebih dulu. Semakin seru jadinya.
“Dari pada bingung-bingung, mendingan kasih pinjem ke gua aja. Guakan paling ancur dan culun,” kata Armansyah yang gak tahu malu.
“Diam semua! Saya yang berhak menentukan, karena saya adalah pemiliknya. Begini saja. Siapa yang mau jadi pacar saya, berarti dia yang boleh minjem duluan,” kata saya.
“Hu!” teriak semuanya.
“Tuh Dewi aja, diakan yang paling sexy. Pasti mau,” usul Sobirin.
“Enak aja, gue gak level sama Eka,” kata Dewi.
“Kalau Dewi duluan, selanjutnya aku ya Ka!” pinta Deti.
“Kalau kamu pengen giliran yang ke dua, berarti kamu jadi pacar saya yang ke dua,” kata saya.
“Cape deh,” kata Deti.
“Sorry! Saya bercanda. Begini saja siapa yang mau ngasih contekan pr matematika, dia yang berhak meminjam sisir saya terlebih dahulu,” kata saya. Lalu semua teman-teman meneriaki saya lagi. “Hu!”
“Ah elo Ka, udah kesiangan, pr juga belum dikerjakan,” kata Sobirin.
* * * * *

S iang itu jam pelajaran terakhir. Saat pelajaran kewirausahaan, saya tidur-tiduran di kelas. Suasana yang gerah membuat saya ngantuk. Apalagi sebelumnya pelajaran olahraga. Kayaknya habis capek enak buat tidur. Untungnya Bu Mike hanya menulis di papan tulis. Dan ia enggak tahu kalau saya enak-enakan tidur-tiduran. Sebelumnya saya sudah berpesan pada Sobirin apabila Bu Mike datang mendekati saya, segera bangunkan saya.
Di saat saya tertidur pulas, tiba-tiba Bu Mike marah-marah. Yang membuat saya tersentak kaget, bangun dari mimpi indah. Saya takut Bu Mike tahu kalau saya tidur di kelas. Tapi ternyata, ia memarahi Dien yang ketahuan lagi menyisir rambutnya. Tapi tunggu dulu. Ternyata Dien memakai sisir kesayangan saya. Saya gak tahu kapan ia mengambilnya. Mungkin tadi saat saya lagi tidur. Tapi mengapa dia gak minta izin dulu?
“Dasar kampungan!” kata Bu Mike sambil melemparkan sisir yang baru saja dimintanya dari Dien ke luar kelas.
Terlihat sisir itu sukses jatuh sampai ke parit yang ada di depan halaman kelas. Saya hanya bisa melihatnya dari dalam kelas. Ada sedikit perasan sedih dan marah ketika melihat adegan yang baru saja terjadi. Sisir kesayangan saya dibuang begitu saja oleh bu guru, gara-gara Dien mengambilnya dari saya tanpa izin. Tapi terlalu gengsi bagi saya untuk memungutnya dari parit. Dan saya harus merelakannya. Mungkin memang sisir itu sudah saatnya lepas dari saya.
Sorenya ada latihan sepak bola di sekolah. Kebetulan saya ikut latihan. Ketika selesai latihan Yona menanyakn sisir itu.
“Bukankah tadi sudah dibuang oleh Bu Mike ke parit,” kata saya ketika Yona menanyakan sisir itu.
“Kalau begitu biar gue ambil dulu,” kata Yona.
“Tapi itukan kotor,” cegah saya.
“Gak apa-apa. Entar gue cuci dulu,” kata Yona bersikeras.
Lalu ia mengambilnya dari parit. Setelah itu iapun mencucinya. Dan langsung menggunakannya untuk merapihkan rambutnya . setelah selesai merapihkan rambutnya, iapun mengembalikannya pada saya. Ternyata sisir itu kembali lagi pada saya. Mungkin memang sisir itu enggak mau pisah dari saya.
* * * * *

Keesokan harinya teman-teman saya pada kaget karena sisir itu masih ada pada saya. Dikiranya saya mengambilnya dari parit yang ada di depan halaman kelas. Padahalkan Yona yang mengambilnya.
“Wah elo ternyata masih sayang banget sama sisir itu, sampai-sampai diambilnya lagi dari parit. Padahal udah dibuang oleh Bu Mike dengan sadisnya,” kata Dien.
“Enggak kok,” kata saya.
“Enggak gimana? Ini buktinya sisirnya masih ada sama elo,” kata Dien sambil menunjukan sisir yang saya pegang.
“Sebenarnya kemaren habis latihan olahraga, Yona yang mengambilnya dari parit. Soalnya ia pengen merapihkan rambutnya yang acak-acakan,” kata saya menjelaskan.
“Wah emang kalian bagaikan dua sejoli yang gak bisa dipisahkan,” ledek Dien.
“Sialan! Masa saya pasangannya sama sisir,” protes saya.
“Gak apa-apa. Eh sekarang kok elo gak kesiangan lagi?”
“Enak aja. Ya enggaklah. Masa kesiangan terus,”
“Eh, ngomong-ngomong maafin gue ya kemarin. Gara-gara gue, sisir itu dibuang sama Bu Mike,”
“Iya saya maafin. Lain kali kalau minjem ngomong dulu!”
“Sebenernya kemaren gue mau ngomong dulu. Tapi elonya ketiduran. Ya udah gue ambil aja tanpa bilang-bilang. Sekarang gue pinjem lagi dong sisirnya!”
Lalu saya memberikan sisir itu pada Dien. Di saat itu pula bel telah berbunyi tanda pelajaran pertama akan segera dimulai. Setelah Dien selesai menggunakan sisir itu, lalu iapun mengembalikannya pada saya. Enggak lama kemudian, Bu Sri Dian datang untuk memberikan pelajaran sejarah.
Saat pulang sekolah saya ketemu Echa di angkot. Echa salah satu temen curhat saya. Tapi dia beda sekolah dengan saya. Lalu saya asyik curhat dengan dia. Sampai-sampai enggak kerasa sudah sampai rumah. Lalau sayapun turun dari angkot.
* * * * *

Sore harinya saya panik sekali. Sisir itu hilang. Saya mencarinya di saku belakang celana bagian kiri, gak ada. Padahal di situ saya biasa menyimpannya. Di saku belakang celana bagian kananpun gak ada. Di dalam tas gak ada juga. Saya coba cari di rumah gak ada. Sampai-sampai saya menggeledah kamar saya sendiri tetap gak ketemu. Sayapun coba bertanya pada adik, ayah, ibu sampai nenek, gak ada yang tahu.
Lalu saya mencoba menanyakan pada teman-teman lewat sms. Tapi balasannya mereka gak pada tahu. Saya juga coba telpon malam harinya, tapi tetap gak ada yang nemuin. Entah mengapa saya kehilangan sisir rasanya kayak kehilangan pacar. Mungkin karena sisir itu sangat berarti bagi saya. Ke manapun saya pergi dia selalu ikut. Mungkin itulah yang membuat saya terlalu berat melepaskan sisir itu. Namun kali ini berbeda rasanya. Enggak kayak waktu dibuang oleh bu guru. Kali ini saya merasa terlalu sayang dan berat hati sisir itu untuk pergi ninggalin saya. Tapi lama-lama saya mencoba untuk tegar dan merelakan sisir itu lepas dari saya. Mungkin inilah saatnya sisir itu tidak lagi bersama saya. Hingga semalaman saya gak bisa tidur.
* * * * *

Keesokan harinya di kelas, saya hanya bisa melamun. Saya masih terus mikirin sisir itu yang sekarang hilang, entah ke mana. Saya seharian jadi sedih terus.
“Kenapa sih elo bengong terus?” Tanya Sobirin.
“Iya. Kenapa elo ngelamun terus?” Tanya Nana.
“Saya lagi sedih.” Jawab saya.
“Sedih kenapa? Elo ditolak sama Dewi, ya?” tanya Sobirin lagi.
“Enggak!” jawab saya.
“Kalau bukan ditolak sama Dewi. Elo ditolak sama Wina, ya?” Tanya Nana.
“Enggak!” jawab saya lagi.
“Pasti sama Deti ya, ditolaknya?” Tanya Nana lagi.
“Enggak! Kalian sok tahu. Saya enggak ditolak sama Dewi, Wina ataupun Deti,” kata saya agak kesal.
“Kalau enggak ditolak sama Dewi, Wina atau Deti, berarti ditolaknya sama siapa?” Tanya Sobirin masih belum puas.
“Saya enggak ditolak sama siapa-siapa. Saya sedih karena sisir kesayangan saya hilang. Temen-temen yang lain udah pada tahu karena saya udah sms. Tinggal kalian berdua yang belum saya sms karena nomor kalian kehapus,” Jawab saya.
“Ha… ha… ha… kehilangan sisir aja sedih,” kata Nana sambil ketawa.
“Iya. Sisir hilang kayak gitu aja sedih. Tinggal beli lagi aja, bereskan. Emangnya berapa sih harga sisir sekarang?” kata Sobirin sombong.
“Bukannya apa-apa. Tapi bagaimanapun juga sisir itu sangat berarti sekali bagi saya. Dan kalian semua juga selalu meminjammnya dari saya kan?” kata saya.
“Iya juga sih. Kalau begitu gue bantuin nyari deh.” Kata Nana.
“Gue juga mau bantuin nyari,” kata sobirin.
“Makasih kalau kalian mau bantuin saya mencari sisir itu. Pokokoknya kalau ketemu hubungi saya. Tar deh saya kasih hadiah, sebuah sisir berwarna pink.” Kata saya.
“Masa hadiahnya sisir lagi. Hemat amat. Harusnya hadiahnya sepatu, hp atau mobil,” protes Nana.
“Inikan yang hilang, sisir. Ya hadiahnya sisir dong. Kalau mobil yang hilang, baru mobil hadiahnya.” Kata saya.
Lalu mereka berduapun mencari-cari seisi kelas, namun gak juga ketemu. Sampai-sampai semua teman-teman sekelas juga ikut membantu, tapi masih belum juga ketemu. Harus ke mana lagi saya mencarinya?
Sekitar pukul lima sore sepupu saya Yani, datang ke rumah. Lalu saya menyuruhnya masuk dan duduk setelah ia mengetuk pintu.
“Nih sisir kamu.” Kata Yani. Alangkah terkejutnya saya ketika melihat sisir itu dikembalikan oleh Yani.
“Kok bisa sama kamu? Ketemu di mana?” Tanya saya penasaran dan heran.
“Echa yang nemuin. Kemaren dia ngeliat sisir ini jatuh waktu kamu turun dari angkot saat pulang sekolah. Tapi dia gak sempet ngasih tahu kamu, karena kamu keburu jauh. Udah dicuciin sekalian, katanya kotor banget.” Kata Yani.
“Makasih, ya. Eh sekalian bilang ke Echa saya sangat berterima kasih sekali. Dan ia berhak mendapatkan hadiahnya.”
“Hadiahnya apaan?” Tanya Yani penasaran.
“Hadiahnya berupa sisir berwarna pink. Nanti saya beli dulu,” Jawab saya.
“Ha! Yang bener aja.” Yani kaget.
Sekarang saya udah gak sedih lagi, karena sisir kesayangan saya udah ketemu. Akhirnya sisir berwarna kuning ini kembali lagi pada saya. Saya jadi seneng. Seneng sekali! Mungkin sisir ini ditakdirkan untuk selalu bersama saya.
* * * * *

0 comments:

Posting Komentar