06 Juli 2010

berai :(

CERPEN OLEH : dedewadedew

BERAI

“Ki, kok sekarang jarang sms atau nelpon, sih?” Tanya Ajeng padaku saat dia menelponku.
“Maaf aku sedang sibuk,” jawabku enteng.
“Emangnya kamu lembur terus?” Ajeng masih terus bertanya.
“Gak juga sih. Aku lagi gak ada pulsa,”
“Ya isi dong! Apa perlu aku yang isiin?” terdengar nadanya yang mulai marah.
“Gak usah, makasih. Emang sih aku lagi gak ada uang, tapi aku janji kalau udah gajian tar aku isi pulsa sendiri.”
“Emangnya gak kangen?”
“Ya pasti kangenlah. Sehari saja gak ketemu kamu, aku ngerasa resah dan gelisah,”
“Kamu sebenarnya serius gak sih sama aku? Jujur aku ngerasa sekarang kamu jadi jauh,”
“Ya kalau kamu serius aku juga serius,”
“Bener? Gak akan mainin aku!”
“Ya enggaklah. Aku kan sayang sama kamu. Cuma kamu wanita yang ada di hatiku saat ini,”
“Gombal, di PT kan banyak yang cantik-cantik,”
“Kok gombal sih. Aku benar-benar mencintai kamu dan menyayangi kamu setulus hati. Gak peduli di PT banyak yang cantik-cantik. Pokoknya aku cuma pengin kamu,”
“Bohong,”
“Sumpah. Apa perlu bukti?”
“Perlu. Kamu harus nyebur ke sungai!”
“Sadis amat. Tar kalau aku nyebur ke sungai dimakan buaya, gimana?”
“Biarin,”
“Kok Biarin. Kamu gak takut kehilangan aku? Emangnya kamu gak sayang sama aku?”
“Ngapain harus sayang sama kamu. Masih banyak kok cowok lain di dunia ini yang lebih ganteng dan lebih perhatian dari kamu,”
“Kok gitu sih. Berarti kamu sendiri yang gak serius!” aku jadi mulai marah.
“Maaf deh! Aku cuma bercanda. Aku cuma ngetes doang. Tapi kamu udah marah duluan. Gitu aja marah. Ada yang marah nih,” ledek Ajeng padaku.
“Udah deh, gak usah ngeledek!”
“Maaf deh. Aku juga sayang kamu. Makanya kamu jangan mainin aku!”
“Percayalah padaku! Aku akan selalu menyayangi kamu. Dan aku akan lebih perhatian lagi sama kamu.”
“Janji?”
“Ya aku janji. Eh kamu udah ngantuk belum?”
“Ya nih ngantuk banget. Ya udah met bobo! Met malem!”
“Malem sayang. I love you!”
“I love you to!”Ajengpun menutup telponnya.
Setelah itu aku langsung tidur. Karena besok harus masuk kerja. Kebetulan besok aku bagian pagi. Dan kalau tidak salah Ajeng juga masuk pagi. Jadi besok pagi kami satu shift di PT.
* * * * *
Sudah sebulan yang lalu aku pacaran dengan ajeng. Aku gak nyangka bisa jadian dengan dia. Padahal kami sebelumnya hanya berteman. Awalnya kami baru saling kenal saat pertama kali mengikuti tes kerja. Lama-kelamaan kami saling menyukai. Dan selanjutnya kami mencoba untuk menjalin hubungan asmara. Walau aku sendiri sempat putus asa untuk meyakinkan dia karena dia masih merasa ragu terhadapku. Dia masih belum percaya bahwa aku serius dengannya. Dia juga trauma atas kejadian yang dulu-dulu. Tapi dengan segala usahaku, akhirnya Ajeng mencoba untuk mempercayaiku.
Aku tersentak kaget mendengar bunyi hpku saat menonton televisi. Langsung saja aku mengambil hp tersebut di atas meja. Ternyata ada sms. Ajeng minta aku menelponnya nanti malam. Katanya penting. Aku jadi penasaran.
Malamnya dengan beribu tanda Tanya, aku mencoba untuk menghubunginya. Aku sangat penasaran. Karena ini penting.
“Halo! Met malem!” suara ajeng saat menerima telponku.
“Malem! Ada apa Jeng? Katanya penting, ingin ditelpon?” tanyaku langsung tanpa basa-basi. Karena aku penasaran.
“Begini. Tadi ibu nelpon aku. Dia mau ngejodohin aku sama anak temennya. Gimana dong?”
Mendengar itu, spontan aku tersentak kaget. Tiba-tiba detak jantungku seakan-akan berhenti mau copot. Pikiranku jadi gak karuan.
“Apa? Kamu mau dijodohin? Kamu sendiri kenal gak sama anak temennya ibu kamu?”
“Kenal. Dia satu kampung sama aku. Di Palembang.”
“Kalau gitu terserah kamu aja Jeng!”
“Kok terserah Ajeng. Kamu seolah-olah gak serius sama aku.” Tiba-tiba Ajeng jadi marah sama aku.
Aku malah jadi bingung. Aku gak ngerti Ajeng jadi marah padaku. Aku harus bagaimana?
“Maaf. Bukannya aku gak serius, Jeng. Aku hanya bingung, mendengar kamu mau dijodohin sama orang lain. Siapa sih yang mau pacarnya dijodohin sama orang lain?. Kalau aku, jelas gak rela. Tapi kamu sendiri mau gak?” aku malah berbalik tanya.
“Gak mau!”
“Maunya sama siapa?”
“Ya sama kamu. Aku takut kehilangan kamu,” mendengar itu aku tersenyum. Seolah-olah aku akan terbang.
“Aku juga takut kehilangan kamu. Begini aja. Kamu bilang sama ibu kamu bahwa kamu sudah punya pilihan sendiri. Seorang ibu yang ingin melihat anaknya bahagia, pasti dia akan menyetujui siapapun yang akan menjadi pilihan anaknya sendiri.”
“Iya deh. Nanti aku bilang sama ibu. Eh, sodara kamu kok kalau ketemu aku cemberut mulu,”
“Sodara aku yang mana? Siapa?”
“Itu Mba Ranti. Kalau ketemu aku kok, jarang senyum?”
“Oh, Mba Ranti. Mungkin dia kecapeean kali. Jadi males senyum.”
“Masa tiap hari kecapeean?”
“Kamu sendiri nyapa gak?”
“Aku udah nyapa duluan. Tapi Mba Ranti malah diem aja. Gak senyum sama sekali. Malah cemberut. Aku jadi males,”
“Mungkin dia lagi ada masalah kali. Jadi bawaaannya cemberut mulu.”
“Iya kali. Tapi aku ngerasa dia gak suka dengan hubungan kita,”
“Ah, masa. Tapi dia kayaknya seneng kok aku udah punya pacar. Udah deh, sekarang kamu jangan banyak pikiran! Mendingan tidur. Dah malem. Apalagi besok harus kerja. Kamu juga pasti dah ngantuk, kan?”
“ Ya udah. Aku emang dah ngantuk. Met bobo! Aku sayang banget sama kamu!”
“Sama. Aku juga sayang banget sama kamu. Met malem! Met bobo juga!” lalu akupun menutup telponnya. Dan tak lama kemudian akupun tertidur.
* * * * *

Malam minggupun tiba. Aku main ke kontrakannya Ajeng. Di Jakarta Ajeng ngontrak berdua dengan adiknya. Kakanya yang sudah menikah ngontrak di Cengkareng. Sedangkan aku ngontrak berdua dengan temanku di Cakung. Kebetulan malam itu adiknya Ajeng sedang kerja bagian malam. Jadi kami hanya berduan saja di kontarakan. Serasa dunia ini milik berdua.
“Ki, liburan agustusan nanti, ikut ajeng ke Palembang, yuk!”
“Sebenernya pengin sih ikut kamu ke sana. Tapi gantian, ya! Habis aku ikut kamu ke Palembang, tar giliran kamu ikut aku ke Tasik! Gimana?”
“Siapa takut! Bener nih kamu mau ikut aku ke Palembang?”
“Eh gimana nanti aja deh, lihat situasi dan kondisinya dulu.”
“Situasi apaan?”
“Kamukan tau sendiri, aku di bagian mesin kadang libur juga disuruh masuk lembur sama bos.”
“Iya, percaya. Yang banyak lemburannya. Tapi emangnya kamu gak berani nolak lemburan, kalau emangnya ada keperluan yang penting?”
“Gimana, ya? Soalnya gak enak juga sih kalau disuruh lembur, nolak. Apalagi aku masih karyawan kontrak. Sebelumnya dulu juga, aku pernah nolak lemburan langsung dari supervaisour waktu bela-belain mo pertama kali ngapel ke tempat kamu.”
“Oh, yang waktu itu,”
“Iya. Aku padahal gak enak banget sama Pak Marwan. Habisnya aku udah janji sih mo ke tempat kamu. Aku bilangnya, ada ada janji,”
“Ki, kenapa ya, Mba Ranti kok masih cemberut aja tiap kali ketemu Ajeng?”
“Mungkin dia lagi banyak masalah atau pikiran. Coba deh kamu senyum duluan!”
“Udah. Tapi dia tetep aja cemberut. Aku jadi males,”
“Ya udah, gak usah dipikirin! Yang penting hubungan kita lancar-lancar aja!”
“Amin!”
* * * * *
Liburan agustusanpun tiba. Walaupun hanya tiga hari saja, rasanya cukup untuk istirahat. tapi aku harus tetap masuk lembur. Itulah yang membuat aku tidak jadi ikut ke Palembang dengan Ajeng. Tapi Ajeng juga gak jadi ke Palembang. Katanya justru ibunya yang akan datang langsung ke Jakarta. Beliau ingin menengok kakaknya Ajeng yang sedang dirawat di Rumah Sakit karena gendang telinganya pecah.
Aku mendapat sms dari Ajeng agar malam minggu besok datang ke tempatnya. Katanya ia pengen ngenalin aku sama ibunya. Tapi entah mengapa justru aku enggan rasanya bertemu dengan ibunya Ajeng. Aku merasa belum siap. Karena aku baru pertama kali pacaran. Jadi masih bingung kalau harus bertemu dengan calon mertua. Aku gak tau harus bagaimana. Aku merasa sekarang jadi seorang pengecut. Gak ada nyali. Gak tau kenapa aku gak ada keberanian sedikitpun untuk menemui calon mertua. Tapi bagiku sering main ke tempatnya saja aku sudah cukup berani walaupun gak ketemu ibunya. Tapi aku merasa Ajeng sangat mengharapkan kedatanganku. Walaupun sekarang aku belum bisa datang menemui ibunya, tapi suatu saat pasti. Hingga akhirnya aku beralasan gak enak badan dan batuk-batuk.
Beberapa hari kemudian aku merasa sikap ajeng sedikit berbeda. Gak seperti biasanya yang selalu ceria dan tersenyum setiap kali ketemua aku. Namun kini justru sering cemberut. Kayaknya dia udah males ketemu aku. Mungkin dia marah atau jengkel karena aku gak mau nemuin ibunya. Aku malah jadi bingung. Aku harus gimana?
Mungkin memang ini kesalahanku sendiri yang membuang-buang kesempatan untuk meminta restu hubungan cinta ini dari ibunya Ajeng. Aku gak habis pikir kenapa jauh-jauh ibunya Ajeng dari Palembang ke Jakarta, justru aku menyia-nyiakan kesempatan itu untuk berkenalan dengannya. Aku jadi kecewa pada diriku sendiri.
Dua minggu kemudian aku main ke tempatnya Ajeng. Mungkin sebelumnya aku belum siap menemui ibunya, tapi kali ini aku bertekad untuk menemuinya. Aku ingin membuktikan bahwa aku serius tarhadapnya dan aku berani menemui calon mertua. Sekaligus aku ingin mengobati kekecewaannya terhadapku.
“Ibu mana?” tanyaku gak sabar ingin menemui calon mertua dan berkenalan.
“Telat. Kemaren udah pulang ke Palembang.”
“Udah pulang? Wah aku telat, ya?”
“Kenapa gak waktu itu?”
“Waktu itukan aku gak enak badan dan belum siap. Maklum baru pertama kali pacaran jadi bingung harus bagaimana kalau ketemu calon mertua. Tapi bukannya aku gak serius sama kamu, aku hanya belum siap saja. Eh sekarang pas udah siap ibu kamu malah udah pulang. Kamu marah ya waktu itu aku gak nemuin ibu kamu?”
“Gak apa-apa. Aku bisa memakluminya. Kalau sekarang belum bisa mungkin kapan-kapan,”
“Makasih kalau kamu gak marah. Suatu saat kalau kita berjodoh pasti aku akan datang untuk melamar kamu. Makanya kamu jangan pernah pergi untuk ninggalin aku!”
“Iya, awalnya aku ragu sama kamu, tapi sekarang justru aku takut kehilangan kamu,”
“Sama aku juga takut banget kehilangan kamu,”
* * * * *
Gak kerasa udah enam bulan aku masih pacaran dengan Ajeng. Aku beruntung bisa ngedapetinnya. Walaupun waktu SMA dulu aku gak punya pacar sama sekali. Tapi setelahnya bekerja akhirnya dapat juga. Gak apa-apa aku bukan pacar pertamanya. Entah pacar keberapanya aku gak pernah tahu. Aku gak mempermasalahkannya. Yang penting dia sayang sama aku. Dan mau nerima aku apa adanya. Begitupun sebaliknya. Ajeng mengharapkan aku untuk jujur sayang dan menerima dia apa adanya. Dia pacar pertamaku. Dan semoga dia juga jadi pacar terakhirku.
Namun akhir-akhir ini aku melihat ada sedikit perubahan pada Ajeng. Sekarang dia jadi jarang sms apalagi nelpon. Padahal dulu kalau aku yang jarang sms atau nelpon dia pasti selalu nanyain, dikiranya aku gak seriuslah, gak kangenlah. Namun sekarang berbalik. Justru dia yang jarang sms atau nelpon. Setiap kali aku nanyain kenapa jarang sms atau nelpon, dia hanya bilang biasa aja. Aku ngerasa dia jadi jauh sekarang. Yang membuat aku jadi resah dan gelisah. Aku jadi ngerasa dia udah mulai bosan atau gak serius. Ada apa dengan Ajeng, ya?
Aku mencoba untuk gak nelpon atau sms duluan beberapa hari ini. Maksudnya agar dia yang sms duluan. Namun gak ada hasilnya. Ajeng masih tetep aja jarang menghubungi aku. Kadang kalau gak sabar aku yang sms duluan tapi dia gak ngebales. Aku jadi sebel banget. Sampe-sampe aku sms, “kok sombong banget sih sekarang, gak mau sms.” Diapun ngebales,”maaf beberapa hari ini aku suka diemin kamu. Aku lagi bingung. Maaf selama ini aku gak pernah jujur! Tentang apa aku gak bisa cerita.”
Mendapat balasan sms dari Ajeng seperti itu, mendadak di dalam hatiku muncul beribu tanda Tanya. Kenapa Ajeng gak pernah jujur. Padahal dia mengharapkan aku untuk jujur. Mengapa dia sendiri yang gak jujur? Ah ada yang gak beres. Aku jadi curiga sekarang. Jangan-jangan dia selingkuh sama cowok lain. Tapi kalau emang terjadi kayak gitu, aku gak bisa maafin dia seumur hidup. Karena aku paling gak suka dihianatin.
Hari-hari berikutnya Ajeng masih tetap aja jarang sms apalagi nelpon. Di dalam benakku kini timbul keragu-raguan. Entah aku harus berbuat apa. Entah aku harus masih percaya atau tidak terhadapnya. Dan entah kisah cinta ini harus dilanjutkan atau tidak. Pikiranku semakin kacau. Seharian aku mikirin dia. Aku gak bisa untuk gak nelpon atau sms dia lagi. Tapi telponku gak diangkat. Uh! Jadi makin sebel aja. Akupun mencoba untuk sms dia. “Kenapa sih sekarang jadi gak kayak biasanya? kamu ada masalah? Kamu bingung kenapa? Ibu kamu ngejodohin kamu? Mantan kamu minta balikan? Kamu lagi suka sama cowok lain? Atau ada cowok yang suka sama kamu? jujur sekarang aku jadi ragu. Kayaknya dah bosen ya sama aku? Atau udah gak serius? Kenapa sih kamu gak jujur? Padahal kamu ingin supaya aku selalu jujur sama kamu. Tapi kenapa, justru sekarang kamu sendiri yang gak jujur?”
“Maaf aku gak bisa jawab. Aku gak bisa cerita. Boleh jujur aku masih sayang sama kamu.” Seperti itu balasan smsnya. Aku jadi makin penasaran. Sebenarnya Ajeng kenapa gak mau jujur dan terbuka? Ada apa dengan Ajeng?
Hari sabtu pagi Ajeng main ke tempatku. Sebelumnya ia sms, katanya pingin main, kebetulan lagi libur. Tumben-tumbenan ia sms. Aku seneng Ajeng mo main ke tempatku. Kebetulan temanku lagi kerja bagian pagi. Sedangkan aku sendiri bagian siang. Jadi di kontrakan hanya ada aku dan Ajeng.
“Tumben mo main ke sini?" tanyaku.
“Pengin aja,” jawab Ajeng.
“Kangen, ya?”
“Gak juga,”
“Kenapa sih sekarang jarang sms?” tanyaku penasaran.
“Biasa aja.”
“Kok biasa aja?” tanyaku makin penasaran.
“Gak apa-apa kan?” mendengar itu aku sedikit kecewa.
“Gak apa-apa. Eh, udah makan belum?”
“Udah,”
“Mo minum apa?”
“Air putih aja,”
Lalu aku membuatkannya air putih. Dan menyuguhkan beberapa bungkus roti. Sekitar pukul satu siang lebih lima belas menit, Ajengpun pulang. Aku sendiri berangkat kerja sekitar pukul satu siang lebih tiga puluh menit.
Saat istirahat kerja, aku mendapat sms dari ajeng. “Maaf! Mungkin tadi terakhir kalinya kita berduaan. Mulai sekarang kita temenan aja dulu! Aku lagi pengen sendiri. Kalau kita jodoh gak ke mana. Kamu kan orangnya baik, pasti suatu saat dapat cewek yang lebih baik. Kebaikan kamu gak kan aku lupakan. Sekali lagi maaf!”
Mendadak secara tiba-tiba aku tersentak kaget. Jantung hampir tak berdetak sedikitpun. Darah seolah-olah tak mengalir lagi di tubuhku. Dada terasa sesak. Hampir tak bisa lagi bernapas. Seakan-akan ada pisau tajam menusuk tubuhku. Perih! Sakit sekali! Seketika itu aku jadi lemas tak berdaya. Tak ada gairah hidup sedikitpun. Yang membuat kerjapun tak semangat.
Tiga puluh menit kemudian, aku mendapat sms lagi dari Ajeng. “Sebenernya aku berat hati ninggalin kamu. Makasih kamu telah memberikan cinta yang tulus kepadaku. Aku juga masih sayang sama kamu, tapi aku gak bisa jadi pacar kamu. Semoga nanti kamu dapetin cewek yang baik + cantik!”
Sial! Pulsaku habis. Aku jadi gak bisa ngebales sms itu. Selama bekerja aku kepikirn terus tentang sms itu. Aku jadi gak bisa konsentrasi. Apa yang terjadi saat ini dengan diriku? Apakah ini hanya mimpi? Sejenak aku menarik napas. Mencoba menenangkan diri. Lalu aku mencubit pipiku sendiri agak keras. Aw! Sakit. Ternyata ini bukan mimpi. Ini kenyataan. Kini Ajeng telah pergi meninggalkanku sendiri. Pergi dan mungkin tak akan kembali. Kini aku sendiri di tempat ini.
Kenapa Ajeng malah pergi ninggalin aku? Padahal katanya dia takut kehilangan aku? Kenapa justru dia ngelepasin aku? Kenapa dia gak ngasih alasan yang jelas?
Kenapa dan beribu kenapa? Itulah pertanyaan yang ada di dalam isi kepalaku.
Mungkin karena aku gak mau menemui ibunya. Mungkin karena Mba Ranti yang suka cemberut setiap kali ketemu Ajeng. Mungkin dia jatuh cinta lagi kepada cowok lain. Atau mungkin dikiranya aku gak serius terhadapnya. Walaupun aku pikir justru dia yang gak serius. Atau beribu kemungkinan lain yang membuat dia ninggalin aku. Tapi yang jelas aku gak pernah tahu kenapa Ajeng pergi ninggalin aku. Sekarang aku hanya bisa merelakannya.
Aku mencoba untuk tegar menerima kenyataan ini. Walaupun aku harus kecewa saat ini. Tapi semua itu kujadikan sebagai pengalaman cinta. Meskipun harus berakhir dengan cerai-berai. Dan semoga saja suatu saat nanti aku mendapatkan seorang kekasih yang benar-benar menerima dan mencintaiku apa adanya! Semoga!
* * * * *

0 comments:

Posting Komentar