CERPEN OLEH : dedewadedew
DRAKULA
Malam itu, setelah selesai mengerjakan PR, Seno langsung melihat televisi. Rupanya ia sudah menanti-nantikan film berjudul drakula. Ia sudah lama ingin sekali melihat film mahluk penghisap darah itu. Oleh karena itu saat diputar di televisi ia tidak mau melewatkannya begitu saja. Sampai-sampai ia menolak ajakan nonton bola bareng, di rumahnya Arya. Padahal ia hobi sekali nonton bola.
Seno hanya sendirian di rumahnya. Karena kedua orang tuanya beserta adiknya sedang menjenguk neneknya yang sedang sakit di Surabaya. Sedangkan ia sendiri tidak ikut karena harus sekolah. Apa lagi ia akan menghadapi ujian tes semester.
Seno tidak takut melihat film horor sendirian. Karena ia memang suka film-film misteri. Saat sedang seru-serunya, terjadi mati lampu. Seno jadi kecewa. Karena ia belum menyaksikan film itu sampai selesai. Kini ia jadi penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Namun sayang sekali film itu diputar hanya sekali di layar televisi. Mungkin memang sial bagi dirinya.
* * * * *
Siang itu saat jam istirahat Seno mengajak Arya dan Reza pergi ke perpustakaan. Lalu mereka bertiga menuju perpusatakaan sekolah.
“Gimana Seno semalam film drakulanya seru, gak?” Tanya Arya.
“Seru banget, tapi…,” jawab Seno.
“Tapi apa?” Tanya Reza penasaran.
“Saya enggak nonton film drakulanya sampai selesai,” jawab Seno.
“Emangnya kenapa enggak sampai selesai nontonnya?” Tanya Arya.
“Pasti Seno ketiduran,” kata Reza.
“Sok tahu kamu, Reza. Saya enggak nonton sampai selesai karena di rumah saya tiba-tiba mati lampu,” Kata Seno.
“Mati lampu? Kok sama. Di rumah gue juga mati lampu.” Kata Arya.
“Ya iyalah. Kalau di rumah saya mati lampu, di rumah kamu juga mati lampu.” Kata Seno.
“Kirain cuma di rumah gue doang yang mati lampu. Tapi di rumah Reza enggak mati lampu. Ya Reza ya?” Tanya Arya pada Reza.
“Iya. Waktu aku habis pulang dari rumahnya Arya, aku nanya sama adikku tadi mati lampu gak di rumah. Kata adikku enggak.” Jawab Reza.
“Masa? Mungkin jalur listriknya beda kali?” kata Seno.
“Mungkin juga,” kata Arya.
“Berarti kamu gak tahu akhir ceritanya, dong?” Tanya Reza.
“Ya iyalah. Pas lagi seru-serunya, eh malah mati lampu. Sekarang saya jadi penasaran gimana akhir ceritanya. Makanya saya ajak kalian berdua ke perpustakaan. Saya pengin minjem buku cerita berjudul drakula. Ada gak ya?” kata Seno.
“Kayaknya ada Sen. Buku itu dulu pernah dipinjem sama Rangga.” Kata Reza.
“Kebetulan kalau masih ada. Saya pengin minjem. Kalau kamu Reza, pengin minjem buku apa?” Tanya Seno pada Reza.
“Aku pengin minjem buku yang judulnya Sangkuriang. Itu legenda Jawa Barat.” Jawab Reza.
“Kalau kamu sih Arya?” Tanya Seno pada Arya.
“Kalau gue pengin minjem buku pelajaran aja. Buku fisika,” kata Arya.
Lalu mereka mencari-cari buku yang akan dipinjamnya. Tidak berapa lama Arya dan Reza sudah menemukan bukunya masing-masing. Akan tetapi Seno belum menemukan buku yang berjudul drakula. Ia kebingungan.
“Sen, kamu udah nemuin belum buku yang pengin kamu baca?” Tanya Reza pada Seno.
“Belum. Susah banget nemuinnya. Kamu sih?” Seno malah berbalik Tanya.
“Aku sama Arya udah nemuin buku yang pengin dibaca, kamu mau kita bantuin?” kata Reza.
“Iya dong bantuin Saya. Cari yang judulnya drakula!” kata Seno.
Lalu mereka bertiga mencari-cari buku yang judulnya drakula. Agak lama juga mereka mencari buku tersebut. Memang susah untuk menemukan buku tersebut. Karena di perpustakaan tersebut kebanyakan buku-buku pelajarannya daripada buku-buku ceritanya. Apabila dipersentasekan kira-kira 75% buku pelajaran berbanding 25% buku cerita. Apalagi keadaan perpustakaan, bukunya agak berantakan. Karena kebanyakan yang habis baca, bukunya tidak disimpan di tempat semula. Mereka menaruhnya di sembarang tempat. Bahkan sampai ada yang melemparkan buku ke rak begitu saja. Ini sungguh keterlaluan. Mereka tidak bisa menjaga dan merawat perpustakaan sekolah. Seharusnya mereka bersyukur dan bisa memanfaatkan fasilitas sekolah seperti perpustakaan. Walaupun sekolah mereka swasta. Namun berbeda dengan Seno, Reza dan Arya. Mereka selalu menyimpan dengan rapi buku yang sudah dipinjamnya atau dibacanya. Karena mereka murid-murid yang baik dan rajin.
Ternyata usaha mereka sia-sia untuk mencari buku yang berjudul drakula. Walaupun sudah mencari-carinya ke semua rak buku, tetapi tetap tidak ketemu. Seno jadi kecewa.
“Arya udah ketemu belum?” Tanya Seno pada Arya.
“Belum. Gue udah capek nyari ke sana-sini, tetap aja gak ketemu.” jawab Arya.
“Kalau kamu sih, Reza?” giliran Seno bertanya pada Reza.
“Sama. Aku belum nemuin. Aku juga jadi capek,” kata Reza.
“Aneh juga ya kok enggak ketemu buku itu. Padahal seisi perpustakaan udah kita cari. Tapi tetep aja gak ketemu,” kata Seno.
“Mungkin emang buku itu gak ada kali,” kata Arya.
“Maksud kamu?” Tanya Seno pada Arya.
“Maksud gue, mungkin buku itu ada yang minjem tapi lupa dibalikin.” Jawab Arya.
“Bukan lupa lagi, tapi mungkin emang enggak dibalikin sama yang minjemnya kali,” kata Reza.
“Masa! Berarti saya enggak bisa baca buku itu, dong?” Seno tambah kecewa.
“Sudahlah! Emang udah nasibnya elo kali gak bisa baca buku itu.” Kata Arya.
“Eh tunggu dulu! Sen, kamu jangan bersedih dulu. Kayaknya kamu masih bisa baca buku yang judulnya drakula.” Kata Reza.
“Maksud kamu?” Tanya Seno pada Reza.
“Maksud aku, coba kamu tanyain aja buku itu ama Rangga. Dulu kan dia yang minjem buku itu.” Kata Reza.
“Bener juga kata Reza. Coba elo tanyain aja ama Rangga,” kata Arya.
“Tapi jangan-jangan udah dibalikin,” kata Seno.
“Enggak mungkin. Aku tahu betul sifatnya Si Rangga. Dia biasanya kalau minjem sesuatu gak pernah dibalikin.” Kata Reza.
“Bener. Dulu aja dia pernah minjem penggaris ama gue. Tapi sampai sekarang enggak dibalikin. Pas gue nanya, alasannya hilang.” Kata Arya.
“Tapi kalau bener-bener udah dibalikin, gimana?” Tanya Seno.
“Kalau udah dibalikin kamu tanya aja isi cerita dari buku drakula itu. Kan dia udah baca,” kata Reza.
“Ya deh nanti saya tanyain isi cerita buku yang judulnya drakula itu, kalau ketemu Rangga.” Kata Seno
“Eh, entar malem ada pertandingan bola lagi. Gimana kita nonton di rumah gue?” kata Arya.
“Di rumah saya aja. Gak ada siapa-siapa kok. Cuma saya sendirian. Keluarga saya lagi ke Surabaya selama seminggu.” Kata Seno.
“Boleh juga itung-itung nemenim Seno,” kata Arya.
“Tapi harus sediain banyak makanan, ya!” kata Reza.
“Ah kamu Za pikirannya makanan melulu,” kata Seno.
“Tapi emang seharusnya tuan rumah nyediaan makanan.” Kata Reza.
“Iya deh tar saya sediain makan yang banyak kalau ada,” kata Seno.
“Eh kita ke kelas yuk sebentar lagi jam istirahat habis!” kata Arya.
“Ayo,” kata Seno.
Lalu mereka bertiga bergegas menuju kelas. Karena jam istirahat sudah hampir selesai. Tidak terasa mereka sudah hampir dua puluh menit di perpustakaan. Namun bagi Seno ia harus kecewa karena tidak mendapatkan buku yang diinginkan. Sedangkan Arya dan Reza sudah mendapatkan buku yang ingin mereka baca.
Saat pulang sekolah Seno bertemu Rangga di depan gerbang sekolah. Tanpa membuang-buang kesempatan Seno langsung menanyakan tentang buku yang berjudul drakula, siapa tahu masih ada pada Rangga.
“Eh, Rangga saya pengin ngomong sesuatu sama kamu,” kata Seno.
“Mau ngomong apaan sih cepetan gue gak punya banyak waktu,” kata Rangga.
“Begini. Kamukan dulu pernah pinjem buku yang judulnya drakula di perpustakaan. Sekarang buku itu pengin saya pinjem, soalnya saya belum baca,” kata Seno.
“Buku itu udah gue balikin ke perpustakaan lima bulan yang lalu. Kalo elo mau, pinjem aja ke perpustakaan!” kata Rangga.
“Saya udah nyari ke perpustakaan tapi gak ada. Jangan-jangan emang kamu belum ngebalikin buku itu. Ya kan?” Seno menuduh Rangga.
“Udah! Gue udah balikin buku itu. Beneran!” kata Rangga.
“Kamu jangan bohong deh!” kata Seno.
“Masa elo gak percaya ama gue Sen, serius gue udah ngebalikin ke perpustakaan. Elo masih gak percaya ama gue?” Tanya Rangga pada Seno.
“Saya masih belum percaya ama kamu. Soalnya kamu kalau minjem sesuatu gak pernah dibalikin.” Kata Seno.
“Tapi kalo buku itu gue emang bener-bener udah ngebalikin ke perpustakaan. Lagian yang minjemkan enggak cuma gue aja. Habis gue juga banyak yang ngantri pengin minjem buku itu. Habisnya buku yang judulnya drakula itu cuma ada satu.” Kata Rangga.
“Kalau begitu ceritaain ke saya dong isi buku itu, kamukan udah baca pasti tahu dong ceritanya!” Perintah Seno.
“Sorry! Gue lupa ceritanya,” kata Rangga.
“Masa kamu lupa ceritanya. Kamukan udah baca,” kata Seno tidak puas.
“Itu kan udah lama, lima bulan yang lalu. Gue udah lupa. Beneran. Lagian kenapa sih elo penasaran banget ama buku itu?” tanya Rangga.
“Semalem saya lihat film drakuta di tv . Pas lagi seru-serunya eh malah mati lampu. Padahal saya belum lihat sampai selesai. Sekarang saya jadi penasaran akhir ceritanya gimana. Maka dari itu saya pengin baca buku yang judulnya drakula. Eh saya nyari-nyari ke perpustakaan gak ada.” Kata Seno.
“Oh begitu ceritanya. Tapi elo jangan sedih dulu!” kata Rangga.
“Maksud kamu apa?” Tanya Seno penasaran.
“Begini. Gue inget ama seorang cewek yang punya koleksi novel, komik dan buku-buku cerita lainnya di rumahnya. Siapa tahu dia punya buku yang judulnya drakula.” Kata Rangga.
“Siapa?” Seno jadi semangat.
“Siska. Coba elo tanya aja ama dia! Siapa tahu dia punya buku itu,”
“Siska!” Seno kaget mendengar nama Siska.
“Iya, Siska yang naksir elo. Tapi kenapa sih elo gak mau nembak dia. Padahal diakan cantik dan baik. Kenapa elo malah gak suka? Gue aja, kalo jadi elo Siska udah gue tembak dari dulu,” Kata Rangga.
“Kamu aja yang nembak dia!” kata Seno.
“Guekan udah punya Sisi. Ntar dia mau dikemanain. Lagian kenapa sih elo gak mau ama dia?” Tanya Rangga.
“Emang sih Siska itu cantik dan baik,” kata Seno.
“Nah itu elo udah tahu kalo Siska itu cantik dan baik. Pinter lagi. Malahan dia selalu masuk rengking sepuluh besar di kelas. Kurang apa lagi dia coba?” Tanya Rangga.
“Walaupun dia cantik, baik dan pinter. Tapi dia centil. Saya gak suka sama cewek centil. Saya gak cocok sama dia,” jawab Seno.
“Seno…Seno. Elo gak bakalan tahu cocok atau enggaknya elo ama dia kalo elo sendiri gak nyoba atau ngejalanin. Percaya deh kalo punya pacar bikin hati jadi berbunga-bunga dan hidup ini terasa lebih indah. Lagian betah amat sih elo ngejomblo,” kata Rangga.
“Siapa sih yang gak mau punya pacar? Sebenernya saya juga pengin punya pacar. Tapi kalo gak cinta, gimana?” Tanya Seno.
“Walaupun elo gak cinta ama Siska. Tapi kalo elo udah ngejalanin ama dia, nantinya cinta bakalan tumbuh dan datang dengan sendirinya. Nah di situ elo mungkin udah mulai cocok ama dia. Ya itu semua sih tergantung elonya aja. Pokoknya kalo elo pengin baca buku yang judulnya drakula, tanyain aja ama Siska! Eh udah dulu ya! Gue udah ditungguin Sisi,” kata Rangga.
Lalu Ranggapun pergi meninggalkan Seno. Dan Senopun langsung pulang ke rumah naik angkutan umum. Meski dia tidak berhasil lagi mendapatkan buku yang judulnya drakula.
Sekarang Seno tambah bingung gara-gara gagal mendapatkan buku itu. Apalagi Rangga mengusulkan untuk menanyakan buku itu pada Siska. Padahal Siska pernah naksir Seno. Tapi justru Senonya tidak suka pada Siska. Walaupun sebenarnya Siska naksir Seno sudah dari dulu. Dari kelas 3 SMP. Hingga sekarang kelas 3 SMA. Namun Seno selalu menghindar setiap kali bertemu Siska.
Akan tetapi demi rasa penasarannya terhadap cerita dari buku yang berjudul drakula, Seno sore ini juga mencoba untuk menemui Siska ke rumahnya. Sekitar pukul lima sore ia berangkat ke rumahnya Siska.
Siska sempat kaget melihat kedatangan Seno, ketika membukakan pintu. Namun ia jadi senang karena Seno mau main ke rumahnya. Lalu menyuruhnya untuk masuk ke ruang tamu dan duduk di sofa. Tak lupa iapun membuatkan segelas teh hangat dan mempersilahkan Seno untuk meminumnya. Karena sudah kehausan dari tadi, Senopun langsung meminumnya.
“Ada apa Sen, tumben-tumbenan mau datang ke sini?” Tanya Siska pada Seno.
“Emangnya saya gak boleh ya, datang ke sini? Sebenarnya saya ada perlu sama kamu.” Kata Seno.
“Siapa bilang kamu gak boleh ke sini? Boleh banget kok. Apalagi kamukan temen aku dari SMP. Emangnya ada perlu apa?” Tanya Siska lagi pada Seno.
“Begini. Kamukan punya banyak koleksi buku, ya? Saya pengin minjem buku yang judulnya Drakula. Ada gak?” Seno menanyakan buku berjudul drakula.
“Ada. Sebentar aku ambilkan,” lalu Siska mengambilkan buku berjudul drakula dan memberikannya pada Seno. Betapa senangnya hati Seno ketika Siska membawakan buku berjudul drakula.
“Makasih ya. Kamu baik benget sama saya. Akhirnya saya bisa mendapatkan buku yang selama ini saya cari-cari. Eh, lusa saya kembalikan ya?” kata Seno.
“Gak usah dikembalikan buku itu!” kata Siska.
“Kenapa? Seno bingung.
“Buat kamu aja,” kata Siska.
“Apa? Buku ini buat saya?” Seno tambah seneng.
“Iya. Buku itu buat kamu aja,” kata Siska.
“Kenapa?” Tanya Seno.
“Karena aku suka kamu sejak kelas 3 SMP,” kata Siska tiba-tiba mengungkapkan isi hatinya. Mendengar itu Seno kaget. Kenapa tiba-tiba Siska menyatakan isi hatinya? Dan di saat itu hati Seno jadi berbunga-bunga.
“Tapi kamu sekarang masih suka saya gak?” Tanya Seno.
“Tentu saja aku masih suka kamu sampai kapanpun juga,” jawab Siska.
“Kalau begitu. Maukah kamu jadi pacara saya?” Tanya Seno.
“Mau banget,” jawab Siska.
Betapa senangnya hati Seno. Sudah mendapatkan buku yang dicarinya, dapat pula seorang pacar. Entah mengapa Seno yang dulu suka menghindar setiap kali bertemu Siska sekarang justru jatuh cinta padanya. Mungkin memang benar cinta itu datangnya gak diduga-duga.
* * * * *
Malam harinya sesuai janji Arya dan Reza datang ke rumah Seno untuk nonton bola bareng. Pertandinagan bola pun telah dimulai. Mereka menontonnya dengan semangat. Sampai-sampai teriak-teriak ketika terjadi gol. Akan tetapi Seno tidak terlalu konsen nonton bolanya, karena ia sedang asyik baca buku yang berjudul darkula. Apalagi sedang seru-serunya.
“Udah deh Sen, jangan baca buku terus! Mentang-mentang dikasih ama Siska,” kata Arya.
“Sorry! Ini lagi seru-serunya.” Kata Seno.
“Eh nanti kalau drakulanya datang beneran lalu gigit kamu gimana?” kata Reza.
“Kamu jangan nakut-nakutin saya. Lagian inikan cerita bohongan gak mungkin drakulanya datang beneran.” Kata Seno.
“Sen, ada catur gak. Gue pengin main ama Reza sambil nunggu bola babak kedua,” kata Arya
“Ada, sebentar saya ambilkan di kamar,” kata Seno.
Lalu Seno bergegas ke kamarnya untuk mengambil catur. Namun ketika sampai di kamarnya Seno malah melanjutkan baca bukunya yang berjudul drakula sambil tidur-tiduran di kasur. Karena ceritanya seru dan menyeramkan.
Tiba-tiba jendela kamar terbuka dengan sendirinya. Lalu angin berhembus kencang sekali. Seketika itu muncul mahluk menyeramkan dari jendela masuk ke kamar. Tentu saja bulu kuduk Seno jadi merinding melihat kedatangan mahluk tak dikenal itu. Berjuta perasan takutpun dating menghampiri Seno. Seno tak habis pikir ternyata drakula itu bener-benar datang menemuinya. Bahkan drakula itu mendekat dan akan segera menyerang Seno. Seno sendiri hanya dapat terdiam dan termangu tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun untuk minta tolong, bahkan bergerakpun susah sekali.
Mahluk itu semakin mendekat dan terus mendekat, tetapi Seno tak bisa lari menjauhi mahluk itu kerena ia masih tak dapat bergerak sedikitpun. Drakula itu langsung mencekik Seno, namun Seno tak dapat memberikan perlawanan sedikitpun terhadap drakula itu. Tiba-tiba seluruh tubuh Seno jadi lemas. Drakula itu masih terus mencekik, sehingga membuat Seno hampir kehabisan napas. Namun ketika drakula itu akan mencoba untuk menggigit dan menghisap darah Seno, seketika itu Seno baru dapat berteriak minta tolong. Arya dan Reza tersentak kaget ketika nonton bola, mendengar teriakan Seno. Tanpa basa-basi mereka langsung bergegas menuju kamar Seno.
Ketika mereka sampai di kamar Seno, alangkah terkejutnya melihat sesosok mahluk menyeramkan sedang mencekik Seno. Arya dan Reza langsung mencoba menyelamatkan Seno dari ancaman mahluk jahat itu. Ketika drakula itu berhasil diusir, Arya dan Reza membangunkan Seno dari tidurnya. Rupanya Seno baru saja mimpi buruk gara-gara baca buku sambil ketiduran.
* * * * *
06 Juli 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 comments:
Posting Komentar