06 Juli 2010

rokok

CERPEN OLEH : dedewadedew
ROKOK
Joko sudah lama sekali kecanduan rokok. Semenjak masuk SMA, ia mulai suka merokok. Awalnya ia ditawari sebatang rokok oleh Badu, teman sekelasnya. Lama-kelamaan ia mulai merasakan kenikmatan dari rokok tersebut. Sampai-sampai ia mengutamakan rokok dari pada makan nasi. Hingga sekarang badannya jadi kurus kerempeng.
Suatu hari ia pergi ke warungnya Bang Midun di gang pelita. Joko ingin sekali merokok. Walaupun enggak punya uang. Namun di warung tersebut enggak ada Bang Midun. Yang ada Bandi, adiknya Bang midun yang masih SMP.
“Jang, Bang midunnya ada?” Tanya Joko.
“Maaf, saya Bandi bukan Ujang atau Jajang. Di sini bukan Bank, tapi warung. Gak ada. Mas Midunyya lagi boker di toilet. Mau beli apa? Tapi kayaknya mau ngutang, ya?” kata Bandi.
“Kok tahu kalau gue pengen ngutang!” kata Joko.
“Keliatan sih dari tampangnya, kayak orang susah,” kata Bandi.
“Sembarangan! Gue langganan di warung sini, tahu!” kata Joko marah.
“Langganan sih langganan, tapi kalau ngutang terus nyusahin yang punya warung.” Kata Bandi.
“Udah! Jangan banyak ngomong, gue mau gudang garam, ada gak?” kata Joko.
“Maaf! Di sini bukan gudangnya garam, tapi ini warung. Saya kan udah bilang dari tadi. Ini warung. Lagian garam lagi kosong. Yang lain aja!” kata Bandi.
“Kalau gak ada gudang garam, gue mau senior aja,” kata Joko.
“Maaf! Saya masih junior. Yang udah senior mas Midun, yang punya warung ini, tapi lagi boker.” kata Bandi.
“Payah. Kalau gitu gue ngutang djarum cokelat aja sebatang,” kata joko.
“Sorry! Gak ada jarum yang cokelat. Adanya jarum warna putih. Kalau warna cokelat mungkin udah berkarat,” kata Bandi.
“Gak ada juga? Gue pesen Djarum tujuh enam aja,” kata Joko.
“Sorry! Di sini jarumnya tinggal tujuh biji. Gak ada sebanyak tujuh puluh enam jarum,” kata Bandi.
“Payah banget sih ini warungnya gak komplit. Kalau gitu gue pengen djarum super aja.” Kata Joko.
“Hah, jarum super! Mau yang segede apa? Yang segede paha? Gak ada. Adanya yang kecil. Segede lidi. Kalau yang paling gede jarum kasur,” kata Bandi.
“Sialan ini warung payah banget. Masa gak ada satu rokokpun yang gue cari.” Kata Joko.
“Oh! nyari rokok toh. Kenapa gak bilang dari tadi. Tapi sayang udah pada habis,” kata Bandi.
“Dari tadi juga gue maksudnya nyari rokok. Dasar penjaga warung yang aneh,” kata Joko lalu pergi.
* * * * *

0 comments:

Posting Komentar