06 Juli 2010

ke apotek

CERPEN OLEH : dedewadedew

KE APOTEK
Di sebuah rumah kontrakan dihuni oleh tiga orang cowok yang namanya aneh-aneh. Mereka adalah Sim, Gara-gara, dan Berani. Hari itu adalah hari minggu. Jadi mereka libur kerja. Namun satu dari mereka sedang menderita sakit kepala. Yaitu Sim. Dia uring-uringan seharian menahan rasa sakit yang luar biasa. Sehingga ia menyuruh Gara-gara untuk membelikannya obat ke apotek.
“Gara-gara tolongin gue dong,” kata Sim.
“Tolongin apaan?” Tanya Gara-gara.
“Gue sakit kepala. Tolong beliin obat ke apotek sana!” perintah Sim.
“Kenapa gak di warung aja sih?” Tanya Sim.
“Gue gak percaya sama obat warung. Gue lebih percaya sama obat yang ada di apotek. Udah deh jangan banyak nanya! Nih duitnya, kembaliannya ambil aja buat beli es cendol,” kata Sim. Lalu ia memberikan uang dua puluh ribuan selembar.
“Kalau cuma segini mana cukup. Buat naik taxinya aja pas-pasan. Itu juga berangkatnya doang. Masa gue pulangnya jalan kaki.” Protes Gara-gara.
“Elo jangan belagu naik taxi segala. Naik bajay aja atau angkot. Kalau duitnya kurang elo talangin aja. Tar gue ganti kalau gajian. Sekalian geu lebihin goceng. Udah buruan gue udah kagak nahan nih!” Kata Gara-gara.
Lalu Gara-gara bergegas ke apotek detik itu juga. Terpaksa ia naik bajaynya Bajuri. Karena uangnya gak cukup untuk naik taxi pulang-pergi.
Sementara di kontrakan Sim sedang menunggu Gara-gara untuk membawakan obat sakit kepalanya. Namun sudah pukul dua sore, Gara-gara belum pulang juga. Apalagi Sim makin kasakitan. Ia sudah enggak sabar lagi ingin segera meminum obat itu agar cepat sembuh. Lalu ia menyuruh Berani yang sedang mencuci motornya, untuk menyusulnya. Takut ada apa-apa dengan Gara-gara.
“Berani, geu minta tolong. Bisa gak?” kata Sim.
“Mau minta tolong apan?” Tanya Berani.
“Coba elo susul Gara-gara, ke Apotek. Tadi gue suruh dia beli obat. Tapi jam segini belum pulang juga. Gue udah kesakitan nih,” kata Sim.
“Tapi motor gue baru dicuci,” bantah Berani.
“Ya entar cuci lagi. Masa elo gak mau bantu temen yang lagi sakit,” pinta Sim.
“Ya deh. Demi temen gue bantuin,” kata Berani.
Lalu Berani bergegas ke apotek menyusul Gara-gara dengan motornya. Namun ketika ia melewati lampu merah, tiba-tiba ada polisi yang menyuruhnya berhenti.
“Stop!” perintah polisi.
“Ada apa pak, menyuruh saya stop?” Tanya berani.
“Mana Simnya?” Tanya polisi.
“Sim lagi sakit, pak di rumah.” Jawab Berani.
“Kamu janga main-main! Mana Simnya?” Tanya polisi lagi. Mengenai surat sim.
“Sim lagi sakit, pak di rumah.” Jawab Berani lagi. Dikiranya polisi menanyakan temannya yang bernama Sim.
“Kamu jangan bohong! Mana Simnya?” Tanya polisi lagi-lagi.
“Bukankah sudah saya bilang berkali-kali. Bahwa Sim lagi sakit kepala di rumah, pak polisi.” jawab Berani lagi-lagi.
“Kamu jangan mencari Gara-gara!” kata polisi. Mengira mencari gara-gara atau memancing emosi.
“Kok pak polisi tahu, saya lagi cari Gara-gara,” kata Berani. Mengira temannya yang bernama Gara-gara yang lagi dicari.
“Kamu berani, ya?” kata polisi. Dikiranya berani melawan polisi.
“Betul sekali, pak. Saya Berani,” kata Berani. Dikiranya polisi tahu namanya.
“Kalau begitu saya tembak kamu! Kata polisi.
“Ja…ja…ja…jangan pak! Salah saya apa?” Tanya Berani ketakutan.
“Salah kamu adalah kamu sudah berani melawan polisi dan mencari gara-gara sehingga memancing emosi saya,” kata polisi.
“Pak saya mencari teman saya yang bernama Gara-gara, bukannya memancing emosi bapak. Nah tuh dia baru datang,” kata Berani. Lalu di saat itu Gara-gara datang dan menghampiri Berani.
“Gara-gara ke mana aja sih elo, lama banget ke apoteknya? Kasihan tuh Sim nunggu di rumah. Dia udah kesakitan dari tadi. Disuruh beli obat lama banget,” kata Berani.
“Sorry lama, Berani! Tadi gue nyari obatnya ke apotek pelita. Soalnya apotek wijaya tutup.” Kata Gara-gara.
“Tunggu dulu! Jadi nama kamu Berani. Kamu lagi nyari teman kamu yang namanya Gara-gara. Karena disuruh beli obat ke apotek oleh temannya yang namanya Sim yang lagi sakit di rumah.” Kata polisi.
“Betul sekali pak,” kata Berani.
“Oh begitu. Berarti saya salah paham dong,” kata polisi.
“Ya iyalah masa yaiya dong. Presiden aja pernah sekolah masa pernah sekodong,” kata Gara-gara.
“Lalu mana surat simnya?” Tanya polisi.
“Oh, tadi itu maksud pak polisi menanyakan surat sim. Saya kira pak polisi nanyain teman saya Sim yang lagi sakit di rumah.” Kata Berani lalu menunjukkkan surat sim pada polisi.
“Makanya jadi orang jangan bego-bego amat.” Kata polisi.
“Saya bego sudah dari sananya, pak.” Kata Berani.
“Bego dipelihara. Masih mending kambing dipelihara bisa gemuk,” kata polisi.
Lalu polisi tersebut menyuruh Berani untuk melanjutkan perjalanan. Tapi Berani justru berbalik arah dan pulang sambil memboncengkan Gara-gara. Setengah jam kemudian mereka sampai di kontrakan. Tanpa basa-basi obat sakit kepala yang dibeli oleh Gara-gara langsung diminum oleh Sim. Sehingga Sim jadi sembuh.
* * * * *

0 comments:

Posting Komentar