23 Juli 2010

kisah janji kelingking

“…Teman itu selamanya”

Begitu kata Agus, salah satu teman SMAku. Dan aku menyepakati hal ini. Ketika kupahami maknanya lebih dalam dan mengiyakan dalam hati bahwa kata-kata ini memang keren. Kata-kata Agus tadi sengaja aku jadikan pembuka paragraf, karena dari kata-kata itulah aku paham makna pertemanan, persahabatan, dan persaudaraan. Dalam perjalanan waktu, kita dihadapkan oleh banyak orang dan banyak masalah yang makin menunjukkan dunia yang sesungguhnya. Di saat itu, ada banyak orang yang datang silih berganti ikut meramaikan hari-hari kita, meski sosoknya berbeda (tergantung ruang dan waktu) tapi hawanya tetap sama dan akan selalu ada pembelajaran yang bisa aku dapat dari mereka,merekalah… teman!

Umurku sekarang sudah 19 tahun, dan selama itu pula aku punya banyak orang yang mengisi hari-hariku, aku punya banyak teman yang datang dan pergi (sejatinya mereka tak pernah pergi dari hatiku). Kalau sebut nama, akan banyak nama yang muncul, dua lembar halaman tak mungkin cukup menceritakan kisahku dan mereka. Aku akan menceritakan beberapa kisah..

Ada dua orang teman yang sangat berpengaruh dalam hidupku. Pada dasarnya semua teman sangat berpengaruh, semuanya secara ngga langsung selalu memberi pembelajaran hidup untukku melalui kisah-kisah mereka. Kebanyakan dari temanku adalah mereka yang selalu tersenyum meski keadaan mereka (menurutku) terpuruk. Iya, mereka tak pernah meninggalkan kesan ‘aku sedang sedih’ kepada semua orang. Tapi di antara yang banyak itu, ada yang paling berkesan, mereka berdua yang memberiku pencerahan tentang hidup yang serba keren ini.

Tersebutlah salah satu dari mereka, Arini Imani Shofia. Dia adalah orang yang mengajariku untuk melihat hal-hal keren di sekeliling. Dia dengan kisah hidupnya yang juga keren, berhasil membuatku sangat menyayanginya. Ada beberapa pengalaman unik dan seru bersamanya. Siapapun yang dekat sama Arini pasti akan merasakan energi bahagianya, termasuk aku, aku selalu merasakan sensasi yang dasyat berteman dengannya. Dulu, waktu kelas satu SMA, aku dan Arini punya sebuah perkumpulan, namanya “Bau Kaki”. Kenapa harus Bau Kaki? Karena kami-kami di kelompok itu, suka sekali dengan bau kaki kami. Kami berpendapat bahwa bau kaki memang ngga enak, tapi kalo dicium lama-lama, baunya jadi enak. Makanya, kami takut untuk mencium bau kaki kami untuk waktu yang lama, bisa-bisa kami ketagihan (seperti anak-anak yang ketagihan lem aibon,mungkin). Di perkumpulan itu kami memulai persahabatan kami. Seleksi alam pun beraksi, sejak penjurusan studi di SMA, kami anggota Bau Kaki terpisah-pisah kelas dan jurusan. Meski begitu, Arini dan Aku masih bertahan, bahkan kami makin dekat. Ada Egi,Nopai, dan kawan-kawan lain yang ikut meramaikan persahabatanku dan Arini. Hal yang paling senang kami lakukan adalah main ke rumah Egi dan nonton futsal atau basket di Sekolah. Sampai lulus SMA, kami masih selalu bersama, banyak kejadian yang kami lewati bersama. Arini, lima huruf, berjuta kekuatan…aku cukup paham dengan pergolakan hidupnya, tapi dia selalu tampak biasa saja,bahkan ceria. Dia selalu otomatis bahagia dengan membuat orang lain bahagia. bukan bermaksud berlebihan, tapi dia memang keren. Sampai sekarang, kami masih sering berhubungan lewat sms atau friendster. Dia kini menuntut ilmu di Psikologi UGM. Kami masih dan insyaAllah akan tetap bersahabat dengan kekuatan janji kelingking kami: SEJATI!

Temanku yang kedua adalah seorang laki-laki. Dia sudah kuanggap seperti saudara kandungku sendiri, Dwi Cahyo Akbar, namanya. Cahyo menjadi temanku sejak kelas dua SMA. Cahyo adalah orang yang sangat periang, tipe orang sanguinis-melankolis, sepertiku. Kami berdua bersahabat karena apa ya? Agak lupa bagaimana awal kejadiannya bisa bersahabat dengannya, yang jelas dia dulu sering bercerita padaku tentang peperangan batinnya. Dia sama seperti Arini, selalu membuat orang di sekitar bisa tertawa (walau tak dapat kupungkiri terkadang ia garing). Dia selalu menganggapku sebagai adik, meskipun usiaku lebih tua darinya. Hal yang paling senang kami lakukan dulu waktu SMA adalah kumpul bareng anak IPS lainnya, mereka teman-teman Arini. Oya,kami juga suka mengejar matahari terbenam, kami suka melihat matahari terbenam,karena ia selalu punya pesona yang berbeda tiap harinya.

Alasan kenapa aku menuliskan Cahyo di sini,karena dia adalah orang yang membuatku sadar akan dasyatnya kekuatan ketulusan hati. Awalnya aku kira ketulusan hati itu hanya ada di teori, aplikasinya nihil. Tapi dia dengan segala sifat optimisnya, selalu meyakinkan aku untuk selalu tulus dalam bertindak. Tampak simpel mungkin, tapi jika kenal Cahyo lebih dalam pasti akan mengerti kekerenannya. Oya,kami juga punya janji kelingking, yaitu: ketulusan hati!

Dua orang temanku (dari jutaan teman-temanku yang juga inspiratif) di atas adalah orang yang membuatku belajar tentang kehidupan, tersenyum, kesejatian, dan tentunya tentang ketulusan hati. Mereka sangat berharga untukku, orang-orang yang kuanggap seperti saudaraku sendiri. Semoga persaudaraan ini berlanjut sampai alam kekal nanti.amin

Pena dunia,mari abadikan diri…on November Rain..hehe,

0 comments:

Posting Komentar