CERPEN OLEH : Dewi Puspasari
DOSA TERMANIS
Saya kaget sekaligus kecewa. Benar-benar kecewa. Bahkan sangat kecewa. Hati saya seolah remuk redam setelah mendengar pengumuman tadi pagi. Seakan-akan ada batu besar menghantam keras harapan saya hingga hancur berkeping-keping. Saya tidak terpilih sebagai calon anggota Paskibra yang akan dikirim mewakili sekolah kami untuk mengibarkan bendera merah putih di tingkat kabupaten. Pengumuman yang tadinya amat saya tunggu, berubah menjadi sesuatu yang tak ingin saya dengar sama sekali. Saya sungguh tak dapat menahan butiran hangat dari mata saya yang mengalir deras di pipi saya. Saya menangis sejadi-jadinya, meski tak lama karena saya tak ingin terlihat lemah dan cengeng. Saya berusaha pasrah dan berlapang dada menerima pengumuman tadi. Saya hanya bisa pasrah.
Bagaimana tidak sedih, saya gagal menjadi anggota Paskibra yang menjadi impian saya sejak SMP. Saya ingin sekali mengibarkan bendera merah putih di hari kemerdekaan Indonesia yang disaksikan langsung oleh Bapak Wali kota. Karena itu merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan bagi saya apabila saya mampu melakukannya.
Setiap hari, sepulang sekolah saya selalu berusaha untuk ikut latihan Paskibra. Terkadang hari minggu juga selalu diadakan latihan Paskibra. Saya tak mau melewatkannya begitu saja, karena saya ingin mengikuti latihannya dengan serius. Saya tetap semangat. Saya berharap sekali dapat terpilih menjadi calon anggota Paskibra. Tapi justru saya gagal total. Sekarang semuanya menjadi sia-sia. Seakan semua usaha dan kerja keras saya selama ini, ternyata tak ada artinya. Saya benar-benar tak bisa mengerti.
*****
Waktu makan siang tiba. Seluruh perserta Pemilihan calon Paskibra mengantri untuk mendapatkan jatah makan siang, termasuk saya yang mulai sedikit tenang. Antrian begitu panjang. Namun saat sedang mengantri, piring melamin saya tak sengaja jatuh dan pecah. Saya kaget sekali. Lalu saya pun keluar barisan karena wadah untukku makan siang tak ada, terlebih saya tidak terlalu lapar. Mungkin karena pengumuman tadi saya jadi tidak nafsu makan. Saya pun pergi ke kelas yang dijadian camp untuk kelompok saya. Saat sedang melihat-lihat di dalam kelas, tiba-tiba seorang Guru bernama Bu Ayu datang dan berkata,”Heni, kenapa kamu tidak ikut makan sinag?”
“Piring punya saya pecah Bu,”
“Kenapa piring kamu bisa pecah?”
“Waktu saya sedang mengantri, tidak sengaja jatuh, Bu!”
“Oh, jatuh! Ya udah tapi kamu harus tetap ikut makan!”
“Tapi Bu, piring saya kan pecah!”
“Kalau begitu kamu pake piring yang ada di dapur sekolah aja,”
“Maaf Bu! Saya sekarang tidak selera makan,” kata saya menolak.
“Kamu jangan begitu Heni!”
“Tapi Bu……….”
“Pasti karena pengumuman tadi, kamu jadi tidak selera makan?”
“Iya Bu,”
“Heni, bagaimanapun juga perut kamu harus diisi! Kamu makan ya!”
“Baik Bu. Terima kasih!”
Lalu saya diajak ke dapur sekolah dan diberi makan siang. Bu Ayu memang baik. Saya pun makan siang bersama yang lainnya.
Saat makan siang saya sudah habis, seorang Guru berperawakan tinggi, dan berkulit putih yang bernama Pak Deni mendekati saya.
“Heni, sudah selesai makannya?” Tanyanya.
“Sudah Pak. ” jawab saya.
Itulah kali pertama ia memanggil nama saya dan awal saya mengenalnya lebih dekat. Pak Deni adalah Guru Matematika sekaligus salah satu guru yang ikut melatih anggota Paskibra. Ia masih muda. Kira-kira usianya antara 25 sampai 28 tahun.
Kemudian pada acara penutup yang diisi dengan bersalam-salaman, ia berkata, “Maaf ya Hen, saya tidak bisa memilih kamu untuk menjadi calon anggota Paskibra!”
“Tidak apa-apa kok pak. Saya juga minta maaf!”
“Tapi Hen, kamu jangan putus asa. Mungkin tahun depan kamu masih punya kesempatan,”
“Iya pak, terimakasih!”
Sejak saat itu saya merasakan ada perasaan aneh setiap kali saya melihat atau bertemu dengannya. Ada suatu perasaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Setiap kali saya bersamanya, saya merasa nyaman. Semuanya terasa manis dan indah. Perasaan yang baru pertama kali saya rasakan selama ini. Padahal saya baru kelas satu SMA. Namun saya dapat bersikap wajar dan menyembunyikan perasaan saya dalam-dalam. Namun rapat-rapatnya menyimpan bangkai, akhirnya tercium juga. Begitu juga dengan saya, sedalam-dalamnya saya menyimpan perasaan, akhirnya ketahuan juga. Pak Deni sudah mengetahui perasaan saya dari salah satu teman curhat saya. Sejak saat itu saya selalu salah tingkah bila bertemu dengannya. Terlebih saya takut kalau Bu Tati yang merupakan istri Pak Deni dan sekaligus Guru sejarah saya tahu. Namun meski begitu, perasaan itu sulit sekali hilang. Semakin saya berusaha menghilangkan perasaan cinta saya, semakin sulit perasaan itu hilang. Karena semakin hari saya semakin menyukai, mengagumi dan menyayangi Pak Deni.
Saya tak tahu mengapa, mungkin karena Pak Deni berkepribadian menarik dan menawan. Pak Deni terkadang perhatian pada saya dan selalu berskap baik pada saya. Terkadang ia menyapa saya terlebih dahulu dan memegang tangan saya cukup lama saat bersalaman. Saya pun selalu merasa bahagia meski hanya melihatnya. Dan tak jarang saya merasa cemburu bila melihatnya bersama siswi-siswi lainnya. Apalagi ada siswi yang berusaha mendekatinya. Hati saya bagai teriris-iris.
Hampir setahun perasaan terlarang itu hadir dan tumbuh dengan suburnya. Sangat sulit sekali menghilangkannya, meski saya tahu perasaan itu terlarang. Terlebih karena bila ia masuk kelas saya untuk mengajar pelajaran tambahan ia selalu ramah dan perhatian pada saya. Karenanya saya sulit fokus pada bahan ajarannya kerena saya hanya memperhatikan dirinya. Pernah suatu hari ia duduk di samping saya saat saya tengah duduk sendirian di depan TU karena mengantar teman membayar uang SPP. Hal itu membuat saya senang dan deg-degan setengah mati.
“Kamu sedang apa Hen?” tanyanya mengawali pembicaraan.
“Saya mengantar teman bayar uang SPP. Sambil menunggunya maka saya duduk di sini,” jawab saya.
“Kamu sendiri sudah bayar uang SPP bulan ini belum?”
“Sudah Pak, kemarin.”
“Hen, kamu sudah pernah ke kebun binatang belum?”
“Belum Pak. Memangnya kenapa?”
“Liburan nanti sekolah kita akan mengadakan darma wisata ke kebun binatang. Kamu mau ikut?”
“Mau Pak,”
“Nanti kita photo-photo di sana,”
“Beneran Pak?”
“Iya, kamu mau kan?” Tanya Pak Deni penuh harap.
“Iya, saya mau Pak,” jawab saya senang.
Hening sejenak. Saya memberanikan diri bertanya sesuatu yang selama ini mengganjal di hati saya. Pertanyaaan yang selama ini ingin saya tanyakan.
“Hemmm…Pak, anak laki-laki yang Bapak bawa waktu acara Isra Mi’raj itu siapa?” Tanya saya hati-hati.
“Oh. . . . itu keponakan bapak, namanya Didi . . . . . ”
Ia bercerita bahwa Didi baru dioperasi dan ia amat menyayangi Didi. Oh Tuhan!!! Saat itu hati saya miris karena saya tahu Pak Deni belum dikaruniai keturunan. Saya selalu berdoa semoga Pak Deni cepat-cepat diberi keturunan agar ia bahagia. Pak Deni sering mengundang saya kerumahnya, seperti saat saya duduk bersama teman-teman saya dan seorang siswi yang tak terlalu saya sukai bernama Sarah di depan TU. Sarah lalu mengajak Pak Deni ngobrol. Saat itu saya amat kesal. Saya berencana pulang, namun belum sempat saya berdiri Pak Deni berkata, “Heni sombong nih!”
“Hah! Sombong kenapa pak?” tanya saya terkejut sekaligus bingung.
“Sombong, gak main-main. Katanya mau ngerujak di rumah bapak. Pohon jambu dan pohon mangga Bapak udah berbuah, ayo main!”
“Iya deh Pak besok.”
Saya amat bahagia. Pak Deni mengundang saya kerumahnya. Tidak semua murid bisa mendapat undangan seperti itu darinya. Namun, Pak Deni terkadang bersikap dingin pada saya. Seperti saat pembagian buku raport. Ia amat dingin pada saya. Tak menyapa dan tak tersenyum sama sekali. Saya tak tahu mengapa.
*****
Sebulan kemudian, setelah saya naik ke kelas dua, saya mendapat kabar yang kurang mengenakan bagi saya. Karena kabar itu sangat menyedihkan bagi saya. Dan Kabar itu saya anggap sebagai kabar buruk. Ternyata Pak Deni tidak lagi mengajar di sekolah kami. Beliau dipindahkan mengajar ke sekolahan lain. Tiba-tiba dada saya terasa sesak. Itu artinya saya tak bisa lagi melihat atau bahkan bertemu dengannya di sekolah. Saya tidak tahu dengan pasti alasan Pak Deni pindah. Saya semakin penasaran. Maka saya memberanikan diri bertanya langsung padanya di ruang guru.
“Maaf Pak, saya mengganggu sebentar!”
“Ada apa Hen?”
“Ada yang ingin saya tanyakan, Pak.”
“Kamu mau tanya apa, Hen?”
“Apa benar Bapak akan dipindahkan?”
“Kamu tahu dari sapa?”
“Saya tahu dari teman-teman, katanya Bapak akan dipindahkan. Apa benar Pak?”
“Heni…,”
“Iya Pak,”
“Memang itu benar, Bapak akan dipindahkan untuk mengajar di sekolah lain.”
“Bapak akan dipindahkan ke sekolah mana?”
“Bapak akan dipindahkan ke SMA 7,”
“Kalau boleh tahu alasan kepala sekolah memindahkan Bapak apa?”
“SMA 7 membutuhkan Guru Matematika. Sedangkan sekolah kita kelebihan Guru,”
“Tapi Pak, nanti siapa yang akan menggantikan Bapak mengajar matematika?”
“Nanti yang akan menggantikan Bapak adalah Bu Reni,”
Sejenak saya terdiam. Saya mencoba untuk menarik napas dalam-dalam. Karena dari awal saya mendengar kabar bahwa pak Deni akan dipindahkan dada saya terasa sesak.
“Heni, Bapak minta maaf apa bila selama ini Bapak berbuat salah sama kamu!”
“Saya juga minta maaf Pak kalau saya punya salah sama Bapak!”
Tiba-tiba air mata saya perlahan mulai berjatuhan dan membasahi pipi saya. Saya tak sadar kalau ternyata saya meneteskan air mata di depan Pak Deni. Ingin rasanya saya menangis sekencang-kencangnya dan memeluk Pak Deni. Namun itu tak mungkin.
Pak Deni seperti merasa kasihan dan tak tega melihat saya menangis. Lalu ia bertanya, “Hen, kenapa kamu menangis?”
Tapi saya tidak bisa menjawab pertanyaan Pak Deni. Seakan mulut ini terkunci. Dan lidahpun menjadi kaku. Saya tak dapat mengucapkan sepatah katapun ketika sedang menangis.
“Sudahlah Hen, jangan bersedih! Kapan-kapan kamu masih bisa main ke rumah Bapak,”
Lalu Pak Deni memegang pundak saya seolah-olah ia bisa mengerti dan memahami perasaan saya. Saya senang bercampur sedih. Lalu saya berpamitan untuk kembali ke kelas.
* * * * *
Sekarang saya harus melanjutkan hidup tanpa sosok Pak Deni. Saya sudah kelas dua SMA dan harus berpisah dengan Pak Deni. Jujur saya tak sanggup. Ini tak mudah. Saya tak bisa menerima kenyataan pahit ini. Saya harus berpisah dengan orang yang saya kagumi dan saya cintai selama ini. Saya sering menangis karena ingin bertemu dengan Pak Deni. Rasa rindu ini sudah tak terbendung lagi. Saya merasa hampa tanpanya. Hari-hari saya menjadi gelap. Hidup saya tak seindah dan sewarna-warni dulu lagi. Saya memang ingin melupakannya, namun itu sangat sulit. Karena saya selalu teringat Pak Deni. Saya ingin seperti dulu. Saya ingin bebas melihat dan bertemu dengan Pak Deni. Mungkin ini salah saya yang telah mencintai pria yang sudah beristri. Walau awalnya terasa manis dan indah tetapi perasaan ini memang terlarang. Dan bagi saya ini adalah dosa termanis.
* * * * *
18 Juli 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 comments:
Posting Komentar