03 Agustus 2010

sahabat sejati

SAHABAT SEJATI

Sudah hampir dua belas tahun lamanya aku mengenal Liza. Dari semenjak aku SD, lalu SMP hingga kini aku memasuki kelas 3 SMA. Liza orangnya baik, cantik, pintar dan setia kawan. Selain itu dia juga perhatian. Dia satu kelas denganku. Dan rumah kami pun berdekatan.

Setiap hari kami selalu berangkat sekolah bersama. Begitu juga dengan pulangnya, aku selalu mengajaknya pulang bareng. Dia pun tak keberatan.

Aku tahu kegemarannya. Dia suka mendengarkan musik, membaca dan nonton film. Terkadang aku selalu menemaninya ke toko musik untuk membeli cd dan kaset penyanyi favoritnya. Aku juga suka menemaninya ke toko buku untuk membeli novel atau majalah. Bahkan kalau ia lagi bt, aku diminta menemaninya untuk nonton film di bioskop. Aku berusaha untuk selalu ada untuk dia. Aku senang bisa deket dengan Lisa. Karena kami bersahabat dari kecil. Dan bisa dibilang Lisa adalah sahabat sejatiku. Pokonya aku beruntung memiliki sahabat seperti dia.

Aku juga menjadi tempat curhatnya. Setiap dia ada masalah, Lisa pasti curhatnya sama aku. Dia gak mau curhat sama temen cowok lainnya atau temen cewek lainnya. Aku heran, kenapa aku yang dijadikan tempat curhat baginya. Pernah aku bertanya padanya mengapa selalu curhat sama aku, dia jawabnya enak aja kalau curhat sama aku, enjoy katanya. Karena aku selalu ngasih masukan yang bagus. Sehingga beban pikiran dia menjadi berkurang. Dan dia nyaman deket sama aku.

Pernah sewaktu aku lagi sakit, dia datang ke rumah untuk menjengukku. Aku senang sekali dia mau datang untuk menjengukku. Dia membawakan buah-buahan dan bubur untukku. Padahal aku lagi malas makan, tapi dia nyuapin aku. Dan akhirnya aku mau makan. Aku senang dia begitu perhatian.

Tiba-tiba di hatiku muncul suatu perasaan. Perasaan yang baru pertama kali aku rasakan selama ini. Tanpa disadari aku telah menyukai Lisa. Tidak hanya itu yang aku rasakan. Karena aku mulai jatuh cinta. Ternyata perhatian darinya telah membuat aku jatuh cinta. Semakin lama aku mengenal Lisa, semakin besar rasa sayangku padanya. Semakin dekat aku mengenal Lisa, semakin besar perasaanku ingin memiliki dia. Namun sayang aku hanya bisa memendam rasa ini. Dan aku gak tahu apakah lisa juga mempunyai perasaan yang sama.

Minggu besok Liza pergi ke Bandung . Dia terpilih untuk mewakili sekolah kami mengikuti lomba bahasa mandarin. Kurang lebih empat hari lamanya. Aku gak lupa selalu mendo’akannya dan memberinya semangat. Karena aku ingin Lisa berhasil.

“Liza, berjuanglah! Kamu pasti bisa jadi juara,”

“Makasih, ya atas dukungannya Jim,”

“Sama-sama. Aku selalu mendukungmu dan mendo’akanmu,”

“Jangan lupa telpon sama sms aku ya Jim!”

“Ok!”

Tiba-tiba ada perasaan sedih mengiringi kepergian Liza. Entah mengapa aku merasa berat hati melepas kepergian Lisa untuk mengikuti lomba bahasa mandarin di Bandung, walau hanya empat hari saja.

* * * * *



Sudah empat hari Lisa mengikuti lomba bahasa Mandarin di bandung . Sudah empat hari aku gak ketemu Lisa. Sudah empat hari pula aku gak ngeliat Lisa. Tiba-tiba ada perasaan hampa di hatiku. Aku merasa kesepian.

Biasanya setiap hari aku berangkat sekolah bareng dia, sekarang gak bisa. Begitu juga pulangnya aku gak bisa bareng dia lagi. Aku seperti gak punya teman lagi. Karena hanya dia teman baikku.

Baru aku sadari aku merasa kangen sama Lisa. Tak bertemu sehari saja rasanya aku tersiksa sekali. Aku ingin segera bertemu dengannya. Rasa rinduku ini semakin besar. Sebesar jagat raya ini. Aku jadi gelisah. Aku jadi resah. Setiap kali aku mengingat dia, rasa rinduku semakin menggebu-gebu. Apa lagi rasa cintaku ini semakin membesar. Aku tak kuasa jika hanya memendam perasaan ini. Aku harus secepatnya mengungkapkan isi hatiku padanya. Sepulang dia dari bandung aku akan menyatakan perasaanku ini. Maka untuk mengobati rasa rinduku padanya aku sms dan nelpon dia. Rupanya Lisa sudah menunggu-nunggu sms dan telpon dariku.

* * * * *



Keesokan harinya Lisa pulang dari bandung . Aku mendapat kabar baik bahwa Lisa berhasil menjadi juara ketiga lomba bahasa mandarin. Aku jadi ikut merasa senang. Setelah kepala sekolah menyerahkan hadiah dan sertifikat penghargaan secara simbolis, aku segera mengucapkan selamat kepada Lisa.

“Lisa selamat atas keberhasilan kamu. Aku udah yakin kamu pasti bisa,”

“Makasih Jimi. Aku cuma juara ketiga kok,”

“Walaupun kamu juara ketiga, tapi kamu tetap hebat, aku salut sama kamu,”

“Itu semua juga berkat dukungan dari kamu. Kamu gak lupa selalu ngasih aku dukungan dan masukan. Apalagi kamu sering sms sama telepon waktu aku di bandung . Aku benar-benar beruntung punya sahabat seperti kamu. Sekali lagi makasih Jimi!”

“Sama-sama. Sudah seharusnya aku mendukung sahabat yang sedang berjuang. Eh, untuk merayakan kemenangan kamu bagaimana kalau aku traktir kamu di kantin?”

“Ah, yang bener kamu mau nraktir aku di kantin? ”

“Iya, bener. Aku ingin nraktir kamu sekaligus ngerayaain keberhasilan kamu. Eh, gak cuma itu aja. Aku juga pengen ajak kamu nonton film di bioskop nanti malam. Bagaimana?”

“Ih, kamu baik banget. Makasih ya,” kata Lisa sambil mencubit pipiku gemas. Tapi aku malah seneng. Lalu kami beranjak menuju kantin.

Malam harinya sekitar pukul tujuh malam aku dan Lisa pergi ke bioskop. Malam itu Lisa keliatan cantik sekali dengan gaun warna biru. Sungguh menakjubkan. Aku tak bosan-bosannya melihat dia terus.

“Jim, kamu kok ngeliatin aku terus?” Tanya Lisa padaku.

“Abis kamu cantik banget sich,” kataku dan masih tetap melihatnya kagum.

“Ah, kamu bisa aja.” Kata Lisa dan tiba-tiba pipinya Lisa memerah.

“Eh, mau nonton film apa nih?”

“Film horor aja pasti seru,”

“Lisa emangnya kamu berani nonton film horor?”

“Eh, kamu jangan ngeledek Jim! Tentu saja aku berani,”

“Emangnya kamu gak takut? Dulu kan kamu takut banget kalau liat film hantu. Malahan kamu pernah ngajak pulang padahal filmnya belum selesai,”

“Itu kan dulu, waktu aku masih kecil. Sekarang aku udah gede. Aku gak bakalan takut lagi nonton film hantu.”

“Yang bener? Pokoknya aku gak mau pulang kalau filmnya belum selesai!”

“Beneran kok! Tenang aja!”

“Baiklah kalau begitu.”

Lalu kami mengantri untuk beli karcis. Setelah itu kami menuju teater satu. Filmnya seru dan menegangkan. Walaupun filmnya cukup seram tapi Lisa tidak merasa takut. Rupanya dia mulai berani melihat film hantu. Kemudian setelah filmnya selesai langsung aku mengantarkannya pulang.

* * * * *



Seminggu kemudian aku mendengar kabar bahwa sekolah kami kedatangan murid pindahan dari bandung . Ia masuk kelasku. Namanya Rudi, badannya lumayan tinggi, pakaiannya rapih, rambutnya dibelah tengah agak gondrong dan mukanya lumayan tampan. Yang membuat aku heran dan penasaran, aku melihat Lisa begitu akrab ketika sedang ngobrol dengannya di kelas. Seolah-olah Lisa sudah lama mengenalnya.

“Jim, kenalin ini Rudi murid pindahan dari bandung . Dia ini juara pertama lomba bahasa mandarin. Rud, ini Jimi sahabat sejatiku dari kecil,” kata Lisa memperkenalkan aku pada Rudi, dan ia memperkenalkan Rudi padaku. Lalu aku bersalaman dengan Rudi.

Semenjak kedatangan Rudi ke sekolah kami, kedekatan aku dengan Lisa mulai renggang. Lisa mulai jarang meluangkan waktunya untukku. Dia lebih sering dekat dengan Rudi dari pada aku. Seolah-olah Lisa telah menemukan sahabat barunya. Aku benar-benar tersingkir. Dan ia mulai mengagumi sosok Rudi karena Rudi sebagai juara pertama lomba bahasa mandarin.

Terkadang aku merasa cemburu ketika Lisa lebih memperhatikan dan memperdulikan Rudi dari pada aku. Seolah-olah aku sudah tidak dianggapnya sahabat lagi. Dan itu membuat aku mulai putus asa untuk mendapatkan cintanya Lisa. Aku merasa sudah tak berarti lagi bagi Lisa. Kini aku merasa telah kehilangan sahabat sejatiku sejak kecil.

Hari demi hari terus berjalan. Kini aku jarang ngobrol dengan Lisa. Seolah-olah Lisa mulai menjauhiku. Aku tak tahu dan tak mengeriti. Semuanya jadi begini. Aku merasa Lisa sekarang enggan bertemu denganku. Aku jadi sedih. Apakah Lisa sudah tak menganggapku teman lagi? Apakah Lisa sudah gak menganggapku sahabat sejatinya lagi? Aku jadi bingung.

Semakin hari sikap Lisa semakin berubah. Dia sudah tak mau lagi berangkat sekolah bareng aku. Dia juga sudah tak mau pulang sekolah bareng aku lagi. Bahkan ketika aku ajak ngobrol, dia malah pergi ke kantin dengan Rudi. Aku jadi kecewa sekali dengan perubahan sikap Lisa.

Mungkin sekarang Lisa sudah tak mengganggapku sahabat lagi. Mungkin sekarang Lisa sudah tak mau berteman denganku lagi. Dan mungkin Lisa sudah tak membutuhkan aku lagi.

Sejak Lisa mengenal Rudi, dia mulai berubah. Ternyata Rudi yang membuat Lisa berubah. Mengapa Lisa jadi seperti ini. Padahal Lisa adalah sahabat terbaikku sejak kecil. Dia sahabat yang berarti bagiku. Dia sahabat yang bisa mengerti aku. Tapi sekarang aku harus kehilangan dia.

Suatu hari di jam istirahat aku beranikan diri berterus terang pada Lisa, apa yang mengganjal di hatiku. Aku ingin segera mengungkapkan isi hatiku. Pelan-pelan aku mendekati Lisa yang sedang duduk sendiri di kelas.

“Lisa aku pengen ngomong sesuatu sama kamu?”

“Kamu pengen ngomong apa?”

“Sekarang kamu banyak berubah ya,”

“Berubah gimana? Berubah jadi supermen?”

“Jangan bercanda dong! Aku serius,”

“Ok! Aku coba serius. Emangnya aku berubah gimana?”

“Semenjak kamu kenal Rudi, kamu jadi berubah. Kamu sepertinya udah gak ada waktu buatku lagi. Kamu lebih mentingin dia dari pada aku. Mungkin aku udah gak kamu anggap lagi teman!”

“Jimi, kamu tetap teman aku. Sampai kapan pun juga kamu tetap sahabat sejatiku,”

“Apakah aku hanya jadi sahabat sejati kamu? Gak lebih?”

“Maksud kamu?”

“Aku gak hanya ingin jadi sahabat sejati kamu. Aku ingin lebih. Aku jatuh cinta sama kamu Lisa. Apakah kamu mempunyai perasaan yang sama?”

“Aku gak bisa!”

“Kenapa? Apakah kamu gak cinta sama aku? Apakah kamu gak bisa membalas cintaku?”

“Bukan itu,”

“Lalu apa?”

“Sebenernya cintamu sudah terbalas dari dulu karena aku juga cinta sama kamu. Aku sayang banget sama kamu. Tapi aku kecewa sama kamu!” aku tersentak kaget.

“Kecewa kenapa? Apakah aku pernah menyakiti hatimu?”

“Kamu gak pernah menyakiti hatiku,”

“Terus kenapa?”

“Bertahun-tahun aku menunggu kata-kata cinta darimu. Tapi kamu gak juga mengungkapkan. Sudah terlalu lama aku menunggumu. Sekarang sudah terlambat. Aku sudah jadian sama Rudi. Sewaktu aku ikut lomba bahasa mandarin di Bandung, dia nembak aku. Ya udah, aku terima aja. Dan aku merasa nyaman sama kamu kalau kita tetap bersahabat. Karena aku takut kehilangan sahabat sepertimu.”

Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Hatiku hancur berkeping-keping. Air mataku menetes perlahan-lahan membanjiri pipiku. Harapanku telah hilang. Aku ternyata sudah terlambat mengungkapkan isi hatiku. Tapi setidak-tidaknya perasaanku sudah plong. Walaupun akhirnya aku harus bersedih. Baru kali ini aku menangis di depan wanita. Oh, Lisa! Haruskah kita tetap menjadi sahabat sejati?

* * * * *

1 komentar: