Hujan membasahi tanah merah itu, di sana seorang cowok sedang bersimpuh memandangi nisan itu. Gundukan itu masih memerah, baru saja membenamkan tubuh seseorang, waktu akhirnya membawa pergi sesosok raga. Baru kali ini aku melihatnya terpuruk seperti itu. Sejak mengenalnya, tak sedikitpun rasa duka yang pernah mampir dari wajah itu, tapi kini airmatanya menganak sungai. Begitu berhargakah sosok yang terdiam dibawah sana untuknya. Aku masih menatapnya, lintasan waktu kembali berputar membawaku ke tempat itu, awal pertemuan kami…
®®®
“Fin… lo mau kemana?” teriak Dian siang itu
“Nggak pulang ama kita?” Nina menimpali. Aku hanya menggeleng, hari ini aku harus cepat pulang, tak ada waktu mengikuti mereka berdua mengubrak-abrik mall
“Sori Di, Nin, gue lagi ada perlu” teriakku. Dan sedetik kemudian aku berlalu, meninggalkan keduanya yang hanya mengangkat bahu. Mamiku bisa marah kalo aku telat pulang lagi, uang jajanku bisa-bisa di diskon, ah mana bisa aku hidup…
Mentari masih asyik memanggang bumi, peluh melumuri dahiku. Jalan ini tak pernah berubah, toh selama dua tahun ini hanya jalan ini yang terus kulalui, menghitung tiap detailnya setiap hari sampai aku bosan sendiri. Inikah masa SMU yang kata orang menyenangkan, toh bagiku tak ada bedanya, hambar, hilang warna atau bahkan tepatnya dibilang hitam. Apa sih yang berkesan di sekolah itu, kecuali persahabatan dari Meyra dan Nina, just that, no more, desisku. Terus terang otakku sudah jenuh dengan semua ini.
Bruk!!! Benda keras itu membuat tubuhku terpental, jatuh terduduk di tanah. “Kalo jalan pake mata dong!!!” makianku meloncat
“Orang jalan pake kaki, nggak pake mata!!!” suara itu lebih keras dari makianku. Kini sesosok tubuh tegap di hadapanku, menatapku dengan seringai dingin yang menusuk. Aku meringis.
“So..sori..!” desisku perlahan. Nah loh, kok aku yang minta maaf. Bukannya cowok itu yang menubrukku sampai gusruk kayak gini. Akhirnya kuangkat tubuhku dari tanah itu
“Maka lain kali kalo jalan pake kaki, jangan pake mata!!!” bentaknya kini. Aku melotot garang. Sedetik kemudian dia membalasnya, ditatap begitu tentu saja memaksaku menyerah, aku bergidik melihat cowok itu. Oh ya siapa sehhh yang nggak kenal cowok dengan tubuh atletis ini yang dilengkapi dengan sepasang mata rajawali yang siap menantang siapapun juga tanpa ampun ditopang oleh kata-kata kasar yang entah dipelajarinya dari perguruan mana. Inilah preman nomor satu sekolahku, bahkan semua guru sudah angkat tangan pada tingkahnya.
“Apa liat-liat!!!” bentakan kembali menamparku, tanpa sadar aku sejak tadi menatapnya.
“Enggak!!!” aku melangkah pergi. Sial sekali hari ini, sudah mentari tak bersahabat memanggangku hidup-hidup malah di tambah lagi keseraman barusan, pukulan telak..
®®®
“Bayangin dah Fin, all counter bikin big sale ampe 70 %. Oh God, uang gue ampe abis buat ngeborong semua!!!” seru Dian antusias.
“Lo pasti nyesel Fin, nggak ikut kita,” Meyra ikut menimpali, aku cuma tersenyum menatap kedua ratu mall itu menceritakan perburuannya kemarin.
“Trus barang-barang yang kalian beli bermanfaat nggak?” balasku. Mereka berdua saling menatap kemudian mengangkat bahu.
“Yah iya sih, yang jelas shopping tuh ilangin stresss,” Meyra mengangguk membenarkan ucapan Dian.
“Eh apaan tuh, rame-rame!” kutarik keduanya mendekati kerumunan itu
“Aduh Fin!! Ngak usah ikut-ikutan deh!” Dian protes, tapi tak kuhiraukan juga
“Oh GOD,” desis Meyra tak kalah terkejutnya dari aku. Di dalam dinding manusia itu, Anto dipukul habis-habisan oleh Dimas. That’s good.
“STOPPPP!” teriakku dan entah dari mana datangnya keberanian yang menyeret tubuhku berdiri di antara kedua cowok itu
“Minggir kamu, ini bukan urusan cewek!” Dimas mencekal tanganku dan menyeretku menjauh dari kesenangannya itu. Aku bertahan, dia mempelototiku tajam, tatapan yang sama seperti kemarin. Tajam sampai ke tulang rusukku. Aku tidak bergerak.
“Nggak usah sok pahlawan deh!” bentaknya.
“Ini bukan masalah pahlawan kek, pengecut kek! Ini nggak baik. Kamu nggak boleh mukul orang sembarangan!” Ingin rasanya kusumbat mulutku agar berhenti melontarkan kata-kata.
“Nggak baik? Apa sih yang kamu tahu soal baik atau buruk! Yang baik menurut kamu belum tentu baik menurut aku!” suaranya naik seribu desibel. Ok! Telingaku sebentar lagi teriak, tak sanggup menerima suara sekeras itu.
“Terserah!!! yang jelas kamu nggak boleh berkelahi di sini. Ini sekolah bukan ring tinju!” teriakku tepat di wajahnya. Kutatap Anto yang cuma terdiam. “Kamu nggak papa kan To!” Tawa kecil di belakangku membuatku berbalik.
“Kamu nggak malu yah, udah bikin masalah ma aku sekarang dibelain cewek. Banci!!!” Dimas menyeringai.
“Fin, lo minggir aja deh. Ini urusan gue ma berandalan brengsek ini.” Aku mengerutkan kening.
“Udah, kita tunda dulu. Biarin nenek cerewet ini pergi dulu. Kita selesaiin nanti!” Diacungkannya tangannya menantang Anto. Di sana Anto mennaggguk mantap, dengan mata berapi penuh dendam. Aku melongo, apa yang kulakukan.
“Ayo Fin, ngapaiin sih sok jago gitu!” Meyra menyeretku menjauh. Dian habis-habisan memakiku, aku cuma mengacak rambutku tanpa paham dengan apa yang baru saja diinstruksikan sel abu-abuku. Apa ada yang salah…
®®®
Kusandang tas ranselku, kutapaki jalan itu. Jalan itu lagi. Aku sudah jenuh dengan jalan ini. Kapan semua rutinitas bodoh dan tanpa arti ini berakhir, aku sudah bosan. Semua betul-betul perulangan sejati, berulang dan terus berulang, selalu melintasi jalan yang sama, di tempat yang sama seakan waktu tak bergerak tapi tetap memakan usiaku.
“Hey To, mo latian yah!” kusapa cowok itu. Dia cuma tersenyum. Dipermainkannya tongkat baseball di tangannya. Masih ada sisa lebam di wajahnya. Semua cowok itu menatapku, aku jadi rikuh.
“Yah met latihan, aku pulang duluan yah!” Wuihhhh… serem juga temennya Anto, apa mereka ikut gabung juga di klub baseball. Seingatku mereka bukan teman sekolahku. Tapi namanya juga klub umum walaupun tetap di bawah bendera sekolah tapi pesertanya boleh dari mana aja. Whatever, i don’t care. Pokoknya aku ingin kembali ke peraduanku, pegel juga abis latian taekwon hari ini. Ampe patah-patah.
Kuhentikan langkahku saat mataku tertumbuk pada sesosok tubuh yang tergeletak di tanah. Aku enggan mendekat, tapi toh otakku memerintahkan lain. Penasaran kembali menggelitikku, oughhh kapan rasa ini berakhir.
“Dimasss!” desisku saat menatap tubuh penuh memar itu, aku berjongkok di sisinya. “Kamu kenapa?” Dia berusaha bangkit, menepiskan uluran tanganku.
“Aku nggak butuh bantuan kamu!” Dia berdiri dengan susah payah, aku mengikutinya.
“Nih, luka kamu perlu dibalut!” Kuulurkan sapu tanganku dan untuk kedua kalinya ditepiskan dengan kasar.
“Kamu berkelahi lagi kan? Emang apa enaknya sih? Emangnya kalo berkelahi, kamu pikir kamu jantan!” Lagi-lagi semprotan kata-kata meluncur telak tanpa kendali. Dia menatapku, lalu menyeringai.
“Ini kehidupanku, kamu nggak usah ikut campur.” Dia melangkah pergi. “Kamu tuh harusnya perlu banyak belajar, supaya nggak usah ikut campu urusan orang lain!” teriaknya masih terus berjalan.
“Ini bukan urusan orang lain!!! Kamu itu teman kelasku, apa aku nggak boleh peduli ama kamu. Kamu tuh nyadar dong, orang tua kamu nyekolahin kamu bukan buat jadi berandalan sekolah, tapi jadi orang pintarrr!” teriakku lantang. Dia menghentikan langkahnya. Berjalan kembali ke arahku. Dicengkramnya daguku kuat-kuat, wajahku kini berhadapan tepat diwajahnya. Aku panas-dingin.
”Apa yang kau tahu entang orang tuaku, hah!!! Mereka tidak peduli apa jadinya anaknya ini!!!! Apa kamu tahu itu!!! Kamu jangan sok tahu! Sok pintar, sok pedulian ama orang. Udah urus saja diri kamu sendiri. Apa kau mengerti perasaanku. Sejak kakakku meninggal aku hanya orang lain yang tidak bisa memberikan yang terbaik seperti yang pernah diberikan kakakku pada mereka. Mereka tak peduli apa aku hidup atau mati, bagi mereka aku tidak ada. Mereka tidak punya anak seperti aku!!! Apa kau tahu itu!!!” Dilepaskannya cengkraman itu, darah di kepalanya masih mengalir. Aku bergidik.
“Makanya lain kali nggak usah ikut campur dengan sesuatu yang tidak kau tahu!”
“Kamu pengecut!” lirihku. Dimas menghujamkan matanya padaku
“Kamu kalah pada diri kamu sendiri, aku tidak menyangka cowok yang paling jago berkelahi di sekolah cuma pengecut kecil yang lari dari hidupnya, tak sanggup membuktikan pada orang tuanya kalau dia juga bisa jadi yang terbaik.” Gerahamnya menegang, aku tahu dia marah mendengar ucapanku.
“Kau banci…! Pengecut!!”
“APA!!! Jaga ucapanmu!” Darahnya telah naik ke kepala.
“Pengecut…pengecut…kau penakut!!!” umpatku. “Kalau kau berani sudah sejak dulu kau keluar dari kerangkeng tololmu itu. Dasar pengecut!!!!”
PLAKKK!!! Perih saat kurasakan tangan itu menyentuh pipiku. Tanpa terasa airmataku mengalir, makin membuat perih itu menyayat. Di bening airmataku aku menatapnya dengan garang, aku masih menantangnya. Apa lagi yang akan dilakukannya, udah cukupkah dia menghempaskan sesaknya. Aku terdiam, tapi tetap saja airmataku mengalir
“Maaf…maafkan aku.” Disapunya air mataku, dia menatapku lembut. Tatapan yang baru pertama kali kulihat.
“Kau benar, aku pengecut. Kenapa kau berani berkata seperti itu, kau sadar tidak, kau benar-benar mengusikku!”
“Aku benar-benar kesal, ada orang yang tahu semua kekalutanku.” Dia masih menatapku, aku membeku. Kemudian ketegangan itu mencair dia tersenyum, entah mengapa aku pun tesenyum.
“Jadi kau mau jadi temanku?” Aku mengangguk. Kuacungkan jari kelingkingku, dia mengerjitkan dahi lalu ikut menautkan kelingkingnya di kelingkingku. Kami berdua tersenyum.
“Sakit yah?” Disapunya pipiku yang memerah.
“Tentu saja! Orang tuaku saja tidak pernah menamparku dan kau seenaknya…” teriakku kesal.
“Maaf, sekali lagi aku minta maaf. Kau boleh membalasnya.” Dimajukannya pipinya, aku mundur selangkah
“Kau tidak menyesal kan? Tamparanku akan lebih keras lagi!” ancamku. Dia cuma meringis. Kuarahkan tanganku ke wajahnya, dia menutup matanya. Aku ingin tertawa melihat tingkah bodohnya, dengan perlahan kuusap darah yang masih mengalir di wajah putihnya itu. Dia membuka matanya sambil tersenyum, kami berdua tertawa.
®®®
Masa putih abu-abu berakhir sudah. Kenangan itu masih saja membekas, setidaknya ada yang tertinggal di jalan itu. Hari dimana rutinitas itu bukan perulangan sejati. Kami berempat kini berpindah ke masa yang lebih dewasa. Aku, Meyra, Dian, dan Dimas masih tetap di satu universitas walau berbeda jurusan kecuali Dian dan Dimas. Aku masih ingat bagaimana Meyra dan Dian marah habis-habisan melihat aku berteman akrab dengan Dimas. Tapi toh setelah mengenal Dimas lebih dekat mereka berubah, kadang menilai sesuatu dari kulit luarnya saja membuat kita salah menafsirkan sesuatu, baik ternyata buruk, dan buruk ternyata baik. Ambivamensi yang sempurna.
“Woi, ngelamun lagi! Jadi nggak nih acara traktitrannya!” Dimas mengejutkanku, kini mengelus perutnya. Aku hanya tertawa.
“Iyah lah, tungguin yang lain dulu.”
“Kalo bukan karena kamu, aku nggak mungkin ada di sini.” Dimas mengacak rambutku.
Aku protes dengan sengit, “Ih, jangan gitu dong, aku bukan anak kecil.”
“Bukan anak kecil! Cuma anak kecil yang ngebuat janji kelingking,” ejeknya.
“Dimassssss! Ih kamu kok gitu sih, nggak solider amat. Pake ninggalin gue lagi!” Dian berlari ke arah Dimas dan kini bergayut mesra di tangannya. OK, jantungku berdenyut kencang, aku cemburu!!! Huekkk no, i’m not jealous. Untuk apa aku cemburu pada sahabatku sendiri. Oh yah, kami berempat memang hanya bersahabat.
“Sori, sisa Meyra nih. Mana tuh anak?” Dimas menatapku, aku mengangkat bahu.
“Udah kita jemput aja di tempatnya.” Dian memberi usul, kami mengangguk. Dan hari itu berakhir indah walau sisakan sedikit sesak di satu rongga dadaku. Sejak kapan rasa ini ada?
®®®
Malam menyelimuti bumi, sejak tadi mentari bersembunyi. Berganti rembulan setengah bulat menggantung disisi langit. Sesak itu makin mencengkramku seperti gelap mencengkram cahaya. Percakapan itu terpantul terus di telingaku, aku hanya sempat berdiri di ambang pintu rumah Meyra saat mendengar suara di baliknya.
“Aku sayang banget ma dia Mey, cuma aku takut persahabatan kita hancur. Aku tidak mau itu terjadi.” Aku tahu betul itu suara berat Dimas.
“Yah sudah, apa salahnya sih kamu jujur. Daripada nggak jelas kayak gini. Dia pasti ngerti! Udah deh, kamu nemuin dia sekarang, entar nggak ada waktu lho.” Aku tidak sanggup lagi berdiri di tempat itu, semua percuma. Kutekan gas kuat-kuat, aku ingin segera tiba di rumah. Traffic light berubah merah, terpaksa kuhentikan civicku. Apa aku salah jika berharap itu aku? Bodoh tidak mungkin, pasti yang dimaksudnya Dian. Apa? Dian? Itu Dian, tatapanku terpaku pada sebuah mobil tepat di sampingku. Itu mobil Dimas, dan di dalamnya ada Dian dan Dimas. Aku tidak sanggup lagi berpijak, kutekan gas kuat-kuat saat merah tersenyum puas, kuharap mereka berdua tidak menyadari kehadiranku. Tapi terlambat, mobil VW Beatle itu telah berada beberapa meter di belakangku. Kulajukan lebih cepat lagi, aku tidak sanggup menemui mereka. Air mataku mengalir kian deras.
BRAKKKK suara di belakangku terdengar seperti dentuman benda keras, sesaat kemudian diikuti sirene ambulans, sosok itu bersimbah darah, dan aku sangat mengenal sosok itu…
®®®
Hujan masih mengguyur tanpa ampun, Dimas masih disana, bersimpuh menatap nisan itu.
“Aku bodoh, seharusnya sejak dulu aku ungkapkan perasaanku. Aku terlalu sayang padamu. Tak ingin menghancurkan persahabatan kita. Mengapa tak kau berikan aku waktu untuk mengungkapkan semuanya.”
“Aku mencintaimu,” desisnya pada nisan itu. Oh Tuhan, begitu berharga sosok yang tertidur damai di bawah sana untuk Dimas.
“Cuma kau yang memahami aku.” Aku tidak sanggup lagi berucap, aku sangat ingin menghentikan kesedihannya berbagi derita dengannya, pada orang yang telah mengubah jalanku, membelokkannya sedikit dan menghapus kejenuhanku dengan perasaan tolol yang sampai kini masih tesimpan di kotak hatiku. Aku mendekatinya, kugerakkan tanganku ingin menyentuh bahunya, aku tercekat ketika mataku menatap nisan itu. Di sana tertulis namaku. Aku mundur beberapa langkah.
“Dia nggak mau kau kayak gini, dia pasti ingin kau bahagia.” Dian kini mendekatinya.
“Ini untukmu, buku harian Finta. Aku juga ingin minta maaf padanya. Selama ini dia menyangka kau suka padaku. Seharusnya dia sadar, kalau kau hanya mencintai dia.” Dimas masih terdiam. Diraihnya bukuku itu. Kini aku hanya membeku menatap semuanya. Angin berhembus, melayangkan aku semakin jauh. Berharap semoga ada indah di ujung sana untuk dia, dia yang telah mengukir satu kisah di lembar hariku yang harus berakhir di sini.
23 Juli 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 comments:
Posting Komentar